Banyak penggemar di Korea, atau yang kerap disebut K-netz, merasa kecewa. Mereka berharap lebih dari sebuah label besar.
Namun begitu, tidak semua memandangnya sebagai masalah serius. Sebagian netizen justru berpendapat, penggunaan teknologi AI sendiri sebenarnya bukan hal yang keliru. “Era sudah berubah, wajar kalau mencoba hal baru,” komentar seorang pengguna.
Tapi, mereka sepakat pada satu hal: eksekusinya. Visual dalam trailer itu dinilai kurang halus, kurang polos, dan janggal jika dibandingkan dengan standar produksi K-pop yang biasanya memukau.
Perdebatan ini akhirnya merembet ke mana-mana. Dari sekadar komentar di kolom media sosial, berubah jadi diskusi panjang tentang masa depan industri hiburan. Bagaimana caranya memakai teknologi canggih seperti AI, tanpa harus mengorbankan rasa dan kualitas seni yang selama ini jadi nyawa K-pop? Pertanyaan itu kini menggantung, menunggu jawaban dari para pelaku industri.
Artikel Terkait
Mister Aladin Tawarkan Paket Tur 4 Hari Bangkok-Pattaya Mulai Rp 6,6 Juta
Jobstreet Luncurkan Fitur Pencarian Kandidat Gratis untuk Akses 50 Juta Profil
Putri Akbar Tandjung, Karmia Krissanty, Wafat Setelah Berjuang Melawan Kanker
Java Jazz Festival 2026 Pindah ke NICE PIK 2, Penyelenggara Siapkan Transportasi Khusus