"Kaga ada gituan. Dari pertama dibilang ada adegan dewasa, tapi kalau lo filmmaker professional, lo akan: Tidak Casting pake adegan dewasa itu," jelas Timo.
Ia kemudian memaparkan protokol kerja yang ideal untuk memastikan keamanan dan kenyamanan talent, terutama dalam adegan-adegan yang membutuhkan keintiman. Penekanannya pada transparansi dan lingkungan kerja yang kondusif menjadi poin kunci.
"Pas nanti masuk ranah reading atau blocking atau prep, gak ada yang namanya japri sama sutradara. Always di environment, transparan dan kondusif. Always adakan kehadiran intimacy coordinator, yang proper emang perempuan, dan kenapa perempuan, ya, lo tahu lah," tambahnya.
Sebagai penutup penjelasannya, Tjahjanto menyampaikan prinsip dasar yang tak boleh dilanggar, terutama dalam melindungi individu yang masih sangat muda.
"(Sutradara) Gak casting anak belasan tahun."
Dukungan untuk Korban dan Penegakan Etika
Sikap vokal yang ditunjukkan Timo Tjahjanto ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Dalam dunia perfilman yang kerap diwarnai dinamika kompleks, pernyataannya ini dipandang sebagai bentuk dukungan nyata bagi korban yang berani bersuara. Ia berharap kasus ini dapat ditindaklanjuti secara serius melalui jalur hukum, sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh insan industri untuk selalu menjunjung tinggi etika profesionalisme dan perlindungan terhadap setiap individu di lokasi syuting. Tegasnya, ini adalah soal menegakkan standar yang melindungi integritas manusia, bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah proyek film.
Artikel Terkait
Lindi Fitriyana Ungkap Surat Cinta untuk Calon Bayi di Media Sosial
Lindi Fitriyana Konfirmasi Kehamilan Lewat Unggahan Instagram
Anrez Adelio Bantah Tudingan Penelantaran Anak via Kuasa Hukum
Keluarga Vidi Aldiano Soroti Fenomena Pemanfaatan Duka untuk Cari Perhatian