Suka Duka Tawa: Kisah Luka Fatherless yang Disembuhkan dengan Maaf dan Tawa

- Kamis, 29 Januari 2026 | 10:06 WIB
Suka Duka Tawa: Kisah Luka Fatherless yang Disembuhkan dengan Maaf dan Tawa

Hubungan antara anak dan orang tua memang tak pernah sederhana. Nuansa peliknya itu coba diangkat dalam film "Suka Duka Tawa" garapan Aco Tenriyagelli. Tayang mulai 8 Januari 2026, film ini menyoroti fenomena fatherless dan dampaknya yang dalam terhadap emosi seorang anak, terutama anak perempuan, saat mereka beranjak dewasa.

Meski temanya berat, film ini justru dikemas dengan balutan humor lewat dialog-dialog keseharian tokohnya. Tapi jangan salah, guyonan yang disajikan sama sekali tidak mengaburkan pesan hangat tentang keluarga yang ingin disampaikan sutradara. Lantas, seperti apa sebenarnya cerita di balik "Suka Duka Tawa"? Dan pelajaran hidup apa saja yang bisa kita ambil? Simak ulasannya.

Mengenal "Suka Duka Tawa"

Film ini berkisah tentang keluarga kecil yang terdiri dari Keset (diperankan Teuku Rifnu Wikana), Cantik (Marissa Anita), dan anak mereka, Tawa (Rachel Amanda). Dinamika hubungan mereka ternyata rumit, dibayangi oleh masa lalu yang tak kunjung usai.

Sejak kecil, Tawa terpaksa berpisah dari ayahnya karena desakan ekonomi. Ia tumbuh hingga usia 21 tahun tanpa kehadiran sosok ayah. Kondisi fatherless inilah yang kemudian membentuknya, memengaruhi kestabilan emosi dan bahkan caranya memaknai cinta.

Luka batin itu akhirnya meluap. Tawa melampiaskan segala kekesalannya lewat materi stand-up comedy, dengan membongkar aib sang ayah di depan publik. Namun, langkah itu justru berbalik menghantamnya. Bumerang itu membawa dampak buruk yang tak terduga bagi Tawa dan seluruh keluarganya.

Lima Pelajaran Hidup dari Layar

Lewat kisah yang emosional dan sangat relevan ini, "Suka Duka Tawa" menawarkan banyak sekali pesan. Berikut lima poin penting yang bisa kita renungkan.

1. Kekuatan Ajaib Sebuah Maaf

Kata "maaf" memang sederhana, tapi seringkali terasa sangat berat untuk diucapkan. Ego kerap menjadi penghalang terbesar. Padahal, kata ajaib ini punya kekuatan untuk memperbaiki keadaan, sekacau apa pun itu, asal keluar dari hati yang tulus.

Inilah yang tergambar jelas dalam film. Baik ayah maupun ibu Tawa sama-sama kesulitan memulai permintaan maaf. Penundaan itu malah membuat situasi makin keruh, membebani semua anggota keluarga, dan menjebak mereka dalam bayang-bayang masa lalu.

Ketika akhirnya keberanian untuk meminta maaf itu muncul, hubungan pun perlahan mulai membaik. Memang, luka tidak serta-merta sembuh total. Tapi langkah kecil itu jelas menjadi awal dari sebuah proses penyembuhan yang selama ini dinanti.

2. Dampak "Fatherless" yang Mengendap

Figur ayah punya peran krusial dalam tumbuh kembang anak, khususnya bagi anak perempuan. Kondisi fatherless seperti dialami Tawa bisa membentuk cara anak mengelola emosi hingga ia dewasa nanti.


Halaman:

Komentar