Suka Duka Tawa: Kisah Luka Fatherless yang Disembuhkan dengan Maaf dan Tawa

- Kamis, 29 Januari 2026 | 10:06 WIB
Suka Duka Tawa: Kisah Luka Fatherless yang Disembuhkan dengan Maaf dan Tawa

Dampaknya terlihat, salah satunya, dalam cara mereka membangun dan menjaga hubungan dengan orang terdekat. Tawa, misalnya, jadi sangat sulit membuka diri dan mengungkapkan perasaannya pada orang lain, terutama pada lawan jenis.

3. Ibu: Sandaran Terakhir yang Tak Tergantikan

Hubungan ibu dan anak memang kerap diwarnai pertengkaran. Tapi di balik semua konflik dan perbedaan pandangan itu, sosok ibu tetaplah sandaran aman bagi seorang anak perempuan. Kehadirannya memberikan rasa nyaman yang sulit dicari penggantinya.

Film ini menampilkan konflik kecil antara Tawa dan ibunya dengan sangat emosional, namun tetap terasa dilandasi cinta. Terlihat jelas, seberapa keras pun seorang ibu berusaha menjauh, seorang anak pada dasarnya tak akan pernah benar-benar bisa kehilangan ibunya.

Dalam satu adegan yang menyentuh, Tawa berkata:

“Yang lain boleh bohong, boleh pergi ninggalin. Tapi ibu nggak boleh.”

Kalimat itu menggambarkan ketakutan terdalam Tawa kehilangan satu-satunya tempat ia bersandar.

4. Cinta Pertama yang Hilang

Banyak orang bilang, ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Nah, ketika sosok itu tak hadir untuk memperkenalkan makna cinta yang sesungguhnya, anak bisa tumbuh dalam kebingungan.

Akibatnya, saat dewasa, mereka berisiko sulit membedakan mana cinta yang sehat dan mana hubungan yang justru merugikan. Dalam film, Tawa mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak tahu seperti apa bentuk cinta, semua karena kondisi fatherless yang ia alami sejak kecil.

5. Berdamai dengan Luka

Menerima dan berdamai dengan luka masa lalu jelas bukan perkara mudah. Tapi kalau terus dihindari, luka itu justru bisa menggerogoti kebahagiaan dan merenggangkan ikatan keluarga.

Keluarga Tawa akhirnya belajar untuk saling berdamai dengan luka yang mereka bawa seiring waktu. Proses ini mengajarkan satu hal: tidak ada salahnya menghadapi masalah bersama-sama, dan melewatinya dengan saling mendukung. Momen bahagia sekecil apa pun ternyata bisa menjadi perekat kembali ikatan yang sempat renggang.

Pada intinya, film ini ingin menyampaikan bahwa tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna. Yang ada hanyalah keluarga yang mau belajar untuk memahami, menerima kekurangan masing-masing, dan bertumbuh bersama.


Halaman:

Komentar