Waspada Virus Nipah: Gejala Mirip Flu yang Bisa Berujung Radang Otak

- Senin, 26 Januari 2026 | 10:50 WIB
Waspada Virus Nipah: Gejala Mirip Flu yang Bisa Berujung Radang Otak

JAKARTA – Kalau bicara soal ancaman kesehatan, ada satu nama yang bikin para ahli waspada: Virus Nipah. Penyakit zoonotik ini bisa berakibat serius, bahkan mematikan, dengan gejala yang awalnya terlihat biasa saja seperti demam tinggi, tapi bisa berujung pada peradangan otak yang ganas.

Asal-usulnya dari hewan, tepatnya kelelawar buah yang jadi inang alaminya. Penularan ke manusia bisa terjadi, meski kasusnya terhitung jarang. Tapi jangan salah, tingkat fatalitasnya cukup tinggi. Makanya, deteksi sejak dini itu krusial banget.

Gejala awalnya? Seringnya mirip-mirip flu atau infeksi biasa. Si penderita bakal merasakan demam yang tiba-tiba tinggi, kepala pening, pegal-pegal di sekujur tubuh, dan kelelahan yang luar biasa. Karena mirip penyakit umum, inilah yang sering bikin diagnosis awal jadi sulit.

Namun begitu, kondisinya bisa memburuk dengan cepat. Tidak cuma gejala tadi, infeksi Virus Nipah bisa berkembang jadi gangguan pernapasan akut, disertai mual dan muntah-muntah. Yang paling mengkhawatirkan, virus ini bisa menyerang sistem saraf pusat.

Ya, dalam sejumlah kasus, virus ini memicu ensefalitis atau radang otak. Ini adalah fase paling berbahaya. Penderita bisa mengalami kejang-kejang, kebingungan parah, sampai tidak sadarkan diri. Perburukannya bisa terjadi dalam hitungan hari, bahkan jam, kalau tidak ditangani secara intensif.

Menurut sejumlah laporan, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh lemah punya risiko komplikasi yang lebih besar. Penularannya sendiri utamanya lewat kontak langsung dengan hewan yang sudah terinfeksi. Tapi hati-hati juga dengan konsumsi makanan atau minuman, seperti sari buah kurma mentah, yang mungkin sudah terkontaminasi liur atau kotoran kelelawar.

Sayangnya, sampai saat ini belum ada obat antivirus spesifik yang bisa membasmi Virus Nipah. Penanganan di rumah sakit lebih bersifat suportif: menstabilkan kondisi pasien, mengatasi gejala, dan berusaha mencegah kerusakan organ lebih lanjut.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Kewaspadaan adalah kunci utama. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sebisa mungkin menghindari kontak dengan hewan liar terutama kelelawar dan memastikan apa yang kita konsumsi itu benar-benar higienis. Jika muncul gejala mencurigakan apalagi setelah ada riwayat kontak, segera cari pertolongan medis. Deteksi dan penanganan cepat bisa menyelamatkan nyawa.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar