Kemenag Galakkan Ekoteologi, dari KUA Ramah Lingkungan hingga Wakaf Pohon Pengantin

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 13:40 WIB
Kemenag Galakkan Ekoteologi, dari KUA Ramah Lingkungan hingga Wakaf Pohon Pengantin

JAKARTA – Isu lingkungan hidup kini tak cuma jadi wacana di Kementerian Agama. Mereka serius mendorong program berbasis ekoteologi, dan aksinya sudah mulai terlihat nyata di lapangan. Bayangkan, dari pembangunan kantor urusan agama yang ramah lingkungan, sampai melibatkan pasangan calon pengantin untuk turut menanam pohon. Gagasan besarnya sederhana: menjaga alam adalah bagian tak terpisah dari iman.

Hal itu ditegaskan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan itu wajib. Itu adalah cerminan nyata dari keimanan seorang Muslim, bukan sekadar teori.

"Iman tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kepedulian terhadap lingkungan," ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan dalam Rakernas Ditjen Bimas Islam 2026 di Jakarta, Kamis (22/1/2026) lalu. Dalam kesempatan itu, Abu Rokhmad membeberkan sejumlah capaian yang sudah diraih. Sampai saat ini, sudah ada 154 KUA yang dibangun dengan konsep green building. Artinya, efisiensi energi dan prinsip ramah lingkungan jadi prioritas utama.

Pencapaian lain? Ada 1.507 masjid yang ditetapkan sebagai pilot project pusat edukasi ekologi. Jemaah diajak untuk lebih sadar lingkungan. Selain itu, lewat kolaborasi dengan IPB, MOSAIC, dan Badan Wakaf Indonesia, telah lahir hutan wakaf seluas 40 hektare yang tersebar di 11 lokasi.

"Masjid bukan hanya pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan umat untuk membangun kesadaran ekologis," tambah Abu Rokhmad.

Nah, yang menarik, program Kemenag ini benar-benar menyentuh level akar rumput. Ambil contoh program wakaf pohon pengantin. Gagasannya, pasangan yang akan menikah diajak menanam pohon sebagai bentuk komitmen menjaga bumi. Program ini sudah melibatkan sekitar 1,5 juta calon pengantin di seluruh Indonesia. Lumayan, kan?

Belum lagi gerakan penanaman satu juta pohon Matoa yang digerakkan melalui jaringan Majelis Taklim di berbagai daerah. Upaya ini menunjukkan bahwa pesan lingkungan harus disampaikan dengan bahasa yang dekat dan mudah dipahami masyarakat. Caranya? Masukkan ke dalam narasi keagamaan.

Di sisi lain, Kemenag tak hanya fokus pada aksi lapangan. Mereka juga memperkuat landasan ilmiahnya. Baru-baru ini digelar International Conference on Islamic Ecotheology for The Future of The Earth. Konferensi ini menghadirkan pakar dari berbagai negara untuk merumuskan pijakan akademik yang kuat bagi gerakan ekoteologi ke depan.

Melalui rakernas yang mengusung tema "Menyiapkan dan Melayani Umat Masa Depan" ini, target Ditjen Bimas Islam jelas: ingin menjadikan perilaku ramah lingkungan sebagai gaya hidup baru. Sebuah gaya hidup yang tidak hanya baik untuk dunia, tetapi juga bernilai ibadah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar