Sapu Menjauh Saat Imlek, Ini Makna Filosofis di Balik Pantangannya

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:15 WIB
Sapu Menjauh Saat Imlek, Ini Makna Filosofis di Balik Pantangannya

Intinya, pantangan menyapu ini lahir dari keinginan untuk menjaga berkah yang sudah datang. Sebuah tradisi yang mungkin terdengar sederhana, tapi punya makna filosofis yang kuat bagi yang menjalankannya.

Lima Pantangan Lain yang Perlu Diperhatikan

Selain soal menyapu, masih ada beberapa larangan lain selama perayaan Imlek. Berikut ini beberapa yang paling sering disebut.

Menagih Utang
Ini pantangan besar. Imlek dianggap sebagai momen untuk semua orang bersukacita tanpa beban. Menagih utang atau bahkan meminjam uang dipercaya bisa mengundang nasib buruk bagi si penagih. Lebih dari sekadar takhayul, ini juga bentuk penghormatan agar suasana kekeluargaan tetap hangat.

Makan Labu
Ini soal bunyi kata. Dalam bahasa Mandarin, labu disebut "gwa", yang pelafalannya mirip dengan kata yang berkaitan dengan kematian. Makanya, lebih baik dihindari dulu. Prinsipnya sederhana: selama perayaan, ucapkan dan konsumsilah hal-hal yang membawa konotasi positif.

Mengucapkan Kata Negatif
Ini mungkin yang paling susah dijalani. Kata-kata seperti "mati", "sakit", "miskin", atau "hancur" sebaiknya disimpan jauh-jauh. Kepercayaannya, ucapan negatif bisa menarik energi buruk dan membawa kemalangan. Jadi, harus ekstra hati-hati bicara.

Memecahkan Benda
Nah, kalau yang ini sering terjadi tanpa sengaja. Memecahkan gelas atau piring dianggap bisa memutus jalannya rezeki. Konon, jika sampai terjadi, kumpulkan pecahannya, bungkus dengan kertas merah, dan ucapkan harapan baik. Baru buang setelah masa Imlek berlalu.

Memberi Uang dalam Jumlah Ganjil
Budaya Tionghoa menyukai angka genap karena melambangkan keberuntungan berlipat. Tapi, angka 4 dan 40 harus dihindari. Soalnya, dalam bahasa Mandarin, angka empat (si) bunyinya mirip dengan kata "kematian". Pilih angka 8, 88, atau 168 yang dianggap lebih membawa hoki.

Tradisi dan pantangan ini memang tidak bersifat mutlak. Namun, bagi banyak kalangan, menjalankannya adalah bagian dari menghormati warisan leluhur dan menyemai harapan untuk tahun yang lebih baik.


Halaman:

Komentar