Ketika film Beauty and the Beast tayang beberapa tahun silam, ramai sekali perbincangan di media sosial. Banyak yang bersikeras Belle mengidap sindrom Stockholm. Alasannya jelas: bagaimana mungkin dia jatuh cinta pada Beast yang jelas-jelas menahannya di istana? Tapi, ya, tak sedikit pula yang membela. Mereka bilang, itu cinta biasa, bukan gejala sindrom apa-apa.
Debat itu ternyata belum benar-benar reda. Hingga kini, istilah "sindrom Stockholm" masih sering muncul dalam obrolan. Menurut Gita Aulia, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, sindrom ini pada dasarnya adalah mekanisme bertahan hidup. Ia muncul saat seseorang terjebak dalam situasi yang sangat mengancam.
“Cara ini dilakukan oleh korban sebagai bentuk adaptasi psikologis agar ia bisa mengurangi rasa takut terhadap keselamatan dirinya,” ungkap Gita.
Dari Mana Asal Muasal Namanya?
Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh seorang kriminolog Swedia bernama Nils Bejerot. Ia mengambilnya dari sebuah peristiwa perampokan bank di Stockholm tahun 1973. Empat orang karyawan bank semuanya perempuan disandera selama hampir seminggu penuh.
Yang menarik, setelah dibebaskan, reaksi mereka justru mengejutkan. Alih-alih trauma atau benci, para korban malah bersikap baik pada para perampok. Mereka mengaku diperlakukan dengan layak selama penyanderaan. Bahkan, mereka enggan bersaksi di pengadilan dan sampai-sampai mengumpulkan uang untuk membayar pengacara para pelaku.
Peristiwa di Swedia itu bukan yang pertama. Sebelumnya, sudah ada beberapa kasus dengan pola serupa.
1. Kasus penculikan Mary Mcelroy (1933)
Jauh sebelum istilahnya populer, Mary Mcelroy sudah mengalaminya. Ia diculik selama 34 jam. Yang aneh, dalam waktu singkat itu, Mary justru menjalin hubungan yang cukup akrab dengan para penculiknya. Mereka bahkan saling bertukar perasaan.
Setelah tebusan 30 ribu dolar AS dibayar, Mary malah diberi ongkos pulang. Nantinya, saat salah satu pelaku, Walter McGee, dijatuhi hukuman mati, Mary justru yang paling vokal memprotes. Hukuman itu akhirnya diubah menjadi penjara seumur hidup. Mary pun rutin menjenguk Walter di balik jeruji.
2. Kasus penculikan Patricia Hearst (1974)
Patricia Hearst, sang pewaris koran ternama, diculik oleh kelompok gerilya SLA ketika masih 19 tahun. Awalnya, ia jelas ketakutan dan terancam nyawanya.
Tapi kemudian, kejadian tak terduga terjadi. Patricia justru memutuskan bergabung dengan kelompok yang menculiknya itu. Dia terlibat dalam sejumlah perampokan bersenjata bersama mereka. Saat akhirnya ditangkap, pembelaannya mengacu pada sindrom Stockholm ia mengaku bertindak di bawah tekanan psikologis yang ekstrem.
Lantas, Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Gita kembali menjelaskan, intinya ini soal adaptasi. Dalam situasi mencekam seperti penyanderaan atau penculikan, korban mencari cara apa saja untuk merasa aman, sekalipun itu berarti mendekati pelaku.
Artikel Terkait
GTV Big Movies Sajikan Maraton Horor dan Laga, dari Lebah Pembunuh hingga Ular Raksasa
Setahun Tak Kunjung Hamil, Pakar Ungkap Pria Lebih Sering Jadi Penyebab
Jalan Damai Inara Rusli Ditolak, Kasus Pidananya Terus Berlanjut
Kolaborasi Pertamina dan RSUD Muda Sedia: Menjaga Denyut Nadi Rumah Sakit Pascabencana