Sindrom Stockholm: Mengapa Korban Justru Bersimpati pada Penculiknya?

- Senin, 19 Januari 2026 | 14:06 WIB
Sindrom Stockholm: Mengapa Korban Justru Bersimpati pada Penculiknya?

“Dalam kondisi ini, korban berusaha membangun makna bahwa pelaku 'tidak sepenuhnya jahat' sebagai cara menjaga stabilitas emosional di situasi yang tidak dapat dikendalikan,” ujarnya.

Faktor-Faktor Pemicu Ikatan yang Tak Wajar

1. Rasa Ketergantungan yang Ekstrem

Nyawa korban sepenuhnya ada di tangan pelaku. Otak lalu mencari jalan pintas: dengan membentuk ikatan emosional, ancaman itu seolah berkurang. Ini cara bertahan yang primitif.

2. Isolasi Total dari Lingkungan

Korban diputus dari keluarga, teman, dan dunianya. Tanpa ada pembanding dari luar, persepsi korban tentang pelaku jadi bias. Satu-satunya realitas adalah apa yang diberikan oleh sang penculik.

3. Pola Kekerasan yang Diselingi Kebaikan

Ini kuncinya. Saat pelaku sesekali bersikap baik memberi makan, mengobrol, atau memberi hadiah kecil korban menjadi bingung. Kebaikan kecil itu, dalam tekanan yang hebat, terasa sangat besar. Dari situlah ikatan emosional yang rumit mulai terbangun.

Lalu, Bagaimana Proses Pemulihannya?

Gita menegaskan, sindrom Stockholm sendiri bukan diagnosis resmi dalam dunia psikiatri. Asosiasi Psikologi Amerika tidak mengakuinya sebagai gangguan tersendiri. Namun, gejalanya sering tumpang-tindih dengan gangguan stres akut atau PTSD.

Beberapa pendekatan terapi bisa membantu:

  1. Terapi yang berfokus pada trauma, misalnya terapi perilaku kognitif (CBT).
  2. Psikoedukasi. Korban perlu paham bahwa reaksi yang dialaminya adalah respons normal terhadap situasi tidak normal, bukan sebuah kelemahan karakter.
  3. Memulihkan rasa kendali atas diri sendiri. Otonomi ini biasanya hilang total selama masa traumatis.

Yang penting, kata Gita, perlakukan korban sebagai seseorang yang sedang berjuang menghadapi trauma, bukan sebagai pihak yang keliru.

“Pemulihannya memang tidak instan, tetapi dengan pendampingan yang tepat, korban dapat keluar dari ikatan traumatis & membangun relasi yang lebih sehat,” pungkasnya.


Halaman:

Komentar