Testosteron Bukan Cuma Urusan Pria: Ahli Jelaskan Dampaknya pada Kualitas Hidup

- Senin, 19 Januari 2026 | 12:18 WIB
Testosteron Bukan Cuma Urusan Pria: Ahli Jelaskan Dampaknya pada Kualitas Hidup

Kalau dengar kata testosteron, pikiran kita biasanya langsung melayang ke kaum pria. Padahal, anggapan itu nggak sepenuhnya benar. Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, seorang ahli andrologi dan anti-aging, menegaskan bahwa hormon ini sama pentingnya buat perempuan. Tanpanya, fungsi tubuh kita baik laki-laki maupun perempuan nggak bakal berjalan optimal.

Perannya luas banget. Bayangkan, dari hal-hal fundamental seperti perkembangan seksual dan pembentukan otot, sampai ke hal-hal yang memengaruhi keseharian: tingkat energi, ketajaman berpikir, bahkan rasa nyaman hidup secara keseluruhan.

“Pria dan perempuan memerlukan hormon testosterone untuk menjadi manusia yang utuh dan normal,”

ujar Prof. Wimpie dalam Grand Opening Steros Clinic di Jakarta Selatan, Kamis lalu.

Lebih Dari Sekadar Hormon Kejantanan

Perjalanan testosteron dimulai sejak masa pubertas, membentuk fisik dan fungsi seksual. Saat dewasa, perannya berlanjut. Ia menjaga gairah seks, merangsang pertumbuhan otot dan tulang yang kuat, serta mendukung produksi sel darah merah. Efeknya terasa sampai ke hal-hal yang sering kita anggap remeh: semangat menjalani hari, pikiran yang jernih, dan kualitas hidup yang baik.

Ketika Kadarnya Menurun pada Pria

Lalu, apa yang terjadi jika kadar testosteron anjlok? Gejalanya bisa beragam dan sering dianggap biasa. Pria akan merasa cepat lelah, gampang bingung, atau mood-nya gampang berantakan. Gairah seks menurun, produksi sperma terganggu, dan kemampuan kognitif pun ikut melambat.

Tak cuma itu. Massa otot dan tulang berkurang, sehingga risiko patah tulang meningkat. Sistem imun jadi nggak sekuat dulu. Yang berbahaya, masalah jantung dan pembuluh darah juga mengintai.

“Tapi di sisi lain yang terjadi juga masalah jantung, pembuluh darah, gangguan perasaan, dan gangguan tidur,”

tambah Prof. Wimpie.

Perempuan Juga Terdampak

Nah, pada perempuan, efek penurunannya nggak kalah serius. Gairah dan fantasi seks bisa menguap begitu saja, disertai berkurangnya pelumasan vagina. Secara fisik, kekuatan otot dan kepadatan tulang juga ikut merosot.

Dampaknya merambah ke kehidupan sehari-hari. Perasaan jadi mudah berubah, energi seperti hilang, dan rasa sayang pun bisa berkurang. Gejala vasomotor seperti rasa panas mendadak dan keringat malam juga kerap muncul.

“Semakin sering insomnia, perempuan sering depresi, dan sering sakit kepala tanpa sebab,”

tuturnya.

Karena itu, nggak ada kata terlambat untuk aware. Pemeriksaan hormon dan penanganan yang tepat jadi kunci baik untuk pria maupun perempuan agar kualitas hidup tetap terjaga seiring bertambahnya usia. Intinya, testosteron ini urusan semua orang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar