Gita menekankan, perempuan yang bertahan dalam hubungan seperti ini kerap disalahkan. Padahal, menurutnya, pilihan itu bukan tanda kelemahan. Ada beberapa alasan kuat di baliknya.
Ikatan emosional yang sudah terlanjur kuat.
Hubungan manipulatif sering diawali dengan fase "honeymoon" yang sangat intens. Perhatian berlebihan dan romantisasi membuat korban sulit melepaskan diri.
Masih ada harapan bahwa pasangan akan berubah.
Banyak yang bertahan karena percaya pada janji perubahan yang diucapkan pasangan, berulang kali.
Rasa bersalah dan keraguan yang ditanamkan pelaku.
Teknik gaslighting yang dipakai pelaku membuat korban terus-menerus mempertanyakan persepsi dan perasaannya sendiri. Mereka jadi ragu, apakah masalahnya ada pada diri mereka.
Bagaimana Caranya Keluar?
“Keluar dari hubungan manipulatif adalah proses psikologis, bukan keputusan instan,” tegas Gita.
Meski berat, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk membebaskan diri.
1. Akui dan validasi perasaanmu sendiri.
Sadari betul rasa lelah yang kamu tanggung. Coba timbang, apa hubungan ini masih memberi ruang untuk kebahagiaanmu?
2. Coba bangun batasan yang jelas.
Ketika hubungan sudah tidak sehat, coba batasi komunikasi secara perlahan. Ini membantu mengurangi ketergantungan emosional yang sudah terbentuk.
3> Jangan ragu minta dukungan.
Bicaralah pada orang yang kamu percaya teman, keluarga, atau profesional seperti psikolog. Dukungan mereka sangat krusial untuk memberimu kekuatan dan perspektif baru.
Artikel Terkait
Menguak Jerat Child Grooming: Mengapa Korban Sering Sulit Melawan?
Klip Bajakan Serbu Medsos, Produser Film Gigit Jari
METOO Hadirkan Pasta Gigi dengan Perisai HAP untuk Atasi Gigi Sensitif dan Berlubang
Gunung dalam Mimpi: Simbol Hambatan atau Panggilan Jiwa?