Andien Buka Suara: Sembilan Bulan Terjebak dalam Hubungan Penuh Manipulasi

- Jumat, 16 Januari 2026 | 20:24 WIB
Andien Buka Suara: Sembilan Bulan Terjebak dalam Hubungan Penuh Manipulasi

Membaca memoar "Broken Strings" karya Aurélie Moeremans ternyata menyentuh hati penyanyi Andien. Tak cuma sekadar membaca, kisah di dalamnya bikin Andien tergerak untuk berbagi pengalaman pribadinya. Ia mengaku pernah terjebak dalam hubungan pacaran yang penuh kekerasan.

Lewat unggahan di akun X-nya pada Senin (12/1), Andien bercerita lebih jauh. Dulu, ia sempat pesimis bisa mendapatkan pasangan yang baik. Menurutnya, ini karena latar belakang keluarganya yang ia anggap "tidak sempurna".

Kisah Pilu Andien: Sembilan Bulan dalam Lingkaran Kekerasan

Sebenarnya, di tahun 2022 lalu, pelantun "Gemintang" ini sudah sedikit membuka suara. Ia mengungkap pernah mengalami abusive relationship. Kekasihnya saat itu kerap melakukan kekerasan. Andien pun berusaha mengakhiri hubungan.

Tapi, upayanya sering gagal. Pasangannya selalu memohon maaf dan memintanya untuk kembali. Andien pun luluh.

Sayangnya, permintaan maaf itu cuma janji di udara. Pola kekerasan itu terus berulang, berputar-putar tanpa ujung, hampir sembilan bulan lamanya.

“Setelah gue balikan, dia ngulangin hal yang sama. Lalu gue putusin lagi. Abis itu dia nangis-nangis lagi, mohon-mohon sampe gue kasihan… Terus gue luluh lagi. Begitu aja terus selama 9 bulan isinya kekerasan,” tulisnya.

Kalau dilihat, perilaku mantan pasangan Andien itu jelas-jelas manipulatif. Dengan tangisan dan permohonan, dia sengaja memainkan rasa iba. Andien pun terjebak dalam tekanan emosional yang membuatnya merasa bersalah kalau memutuskan pergi. Akhirnya, ia memilih bertahan.

Lalu, Kenapa Seseorang Bisa Bersikap Manipulatif?

Menurut Gita Aulia, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, perilaku semacam ini punya akar. Pada laki-laki, kepribadian manipulatif biasanya dipicu beberapa hal.

Pertama, karena kebutuhan kontrol yang terlalu tinggi.

Orang seperti ini biasanya diliputi rasa tidak aman dan takut ditinggalkan.

Kedua, harga diri yang rapuh.

Agar merasa berharga, mereka merasa perlu mendominasi dan mengontrol pasangannya sepenuhnya.

Yang ketiga, pengalaman masa lalu yang kelam.

Lingkungan keluarga penuh konflik atau hubungan tidak setara bisa jadi pemicu tumbuhnya sifat manipulatif ini.

Lantas, Mengapa Perempuan Sering Bertahan?

Gita menekankan, perempuan yang bertahan dalam hubungan seperti ini kerap disalahkan. Padahal, menurutnya, pilihan itu bukan tanda kelemahan. Ada beberapa alasan kuat di baliknya.

Ikatan emosional yang sudah terlanjur kuat.

Hubungan manipulatif sering diawali dengan fase "honeymoon" yang sangat intens. Perhatian berlebihan dan romantisasi membuat korban sulit melepaskan diri.

Masih ada harapan bahwa pasangan akan berubah.

Banyak yang bertahan karena percaya pada janji perubahan yang diucapkan pasangan, berulang kali.

Rasa bersalah dan keraguan yang ditanamkan pelaku.

Teknik gaslighting yang dipakai pelaku membuat korban terus-menerus mempertanyakan persepsi dan perasaannya sendiri. Mereka jadi ragu, apakah masalahnya ada pada diri mereka.

Bagaimana Caranya Keluar?

“Keluar dari hubungan manipulatif adalah proses psikologis, bukan keputusan instan,” tegas Gita.

Meski berat, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk membebaskan diri.

1. Akui dan validasi perasaanmu sendiri.

Sadari betul rasa lelah yang kamu tanggung. Coba timbang, apa hubungan ini masih memberi ruang untuk kebahagiaanmu?

2. Coba bangun batasan yang jelas.

Ketika hubungan sudah tidak sehat, coba batasi komunikasi secara perlahan. Ini membantu mengurangi ketergantungan emosional yang sudah terbentuk.

3> Jangan ragu minta dukungan.

Bicaralah pada orang yang kamu percaya teman, keluarga, atau profesional seperti psikolog. Dukungan mereka sangat krusial untuk memberimu kekuatan dan perspektif baru.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar