Di Balik Panggung Diplomasi: Perdana Menteri Jepang dan Dilema Busana di KTT Global

- Minggu, 14 Desember 2025 | 19:00 WIB
Di Balik Panggung Diplomasi: Perdana Menteri Jepang dan Dilema Busana di KTT Global

Memilih pakaian untuk pertemuan diplomatik ternyata bukan perkara sepele. Bagi Sanae Takaichi, Perdana Menteri perempuan pertama Jepang, hal itu justru jadi tantangan tersendiri. Di akhir November lalu, dia mengakui betapa pusingnya menyiapkan busana untuk konferensi penting seperti KTT G20.

Lewat akun X-nya, @takaichi_sanae, politisi Partai Demokrat Liberal itu bercerita. "Kemarin, saya mengosongkan jadwal untuk berkemas," tulisnya.

"Tapi waktu saya justru habis untuk memilih baju-baju yang akan dibawa."

Rupanya, kegelisahannya berawal dari komentar seorang senator, Yutaka Ando. Ando pernah menyinggung soal pentingnya penampilan kelas tinggi di kancah global. Dia ingin para negosiator Jepang, termasuk Takaichi, tampil percaya diri dengan busana dari material dan perancang terbaik negerinya.

Menurut Yutaka, "Jika Anda bernegosiasi dengan mereka mengenakan barang KW murah, Anda akan diremehkan."

Ucapan itu ternyata nyangkut di benak Takaichi. Dia mengaku tak punya banyak koleksi dari desainer ternama Jepang. Namun, kekhawatiran untuk tidak dianggap remeh oleh pemimpin dunia lainnya membuatnya gelisah. Akhirnya, dia memutuskan untuk membongkar isi lemarinya.

"Saya menghabiskan waktu memilah baju-baju yang baru kembali dari laundry," jelasnya. Kriteria utamanya? Pakaian yang "tidak terlihat murah" dan tentu saja, "tidak akan membuat saya diremehkan."

Setelah proses yang melelahkan, pilihannya jatuh pada setelan andalannya: kombinasi jaket dan dress yang sering dia kenakan. Meski begitu, dia merasa ini mungkin bukan solusi jangka panjang.

"Mungkin saya perlu berinvestasi dalam busana-busana yang pantas untuk negosiasi diplomatik," tuturnya, mengakhiri curhatannya.

Cerita ini langsung ramai dibahas netizen. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa justru urusan baju yang diangkat, bukan isu kebijakan luar negeri yang lebih substantif. Pertanyaan itu wajar, mengingat posisinya sebagai pemimpin.

Namun begitu, pengaruh Takaichi di dunia fashion lokal memang nyata. Sebagai perdana menteri perempuan pertama, gaya berbusananya mendapat sorotan tajam. Gaya khasnya dress selutut, blazer, tas tangan, dengan warna biru yang dominan dideskripsikan rapi, klimis, dan formal sempurna.

Bahkan, muncul sebutan "Sana-katsu" untuk para perempuan yang menjadi pendukungnya dan meniru gaya kantoran sang pemimpin. Mereka seolah melihat Takaichi tidak hanya sebagai figur politik, tetapi juga ikon gaya yang patut dicontoh. Jadi, meski cerita soal lemari baju itu mengundang tanya, pengaruhnya di luar dunia politik ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar