Ahli Sarankan Endoskopi untuk Diagnosis GERD yang Tak Kunjung Reda

- Senin, 16 Maret 2026 | 18:20 WIB
Ahli Sarankan Endoskopi untuk Diagnosis GERD yang Tak Kunjung Reda

JAKARTA – Sudah jaga pola makan, tapi gejala GERD atau asam lambung masih saja kerap muncul. Bikin frustrasi, kan? Ternyata, menurut para ahli, kondisi itu bisa jadi sinyal bahwa tubuh butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk mengungkap akar masalahnya.

Dr. Hasan Maulahela, spesialis gastroenterologi dari RS Pondok Indah, menjelaskan bahwa ketika keluhan tak kunjung reda, langkah diagnosis biasanya dimulai dari percakapan mendalam dengan pasien. “Dokter akan melakukan wawancara medis untuk memahami betul gejala yang dirasakan,” ujarnya.

Namun begitu, jika gejala masih sering kambuh, wawancara saja tak cukup. Pemeriksaan penunjang seperti endoskopi seringkali disarankan.

“Lewat prosedur itu, kondisi saluran pencernaan bisa dilihat secara langsung,” tambah dr. Hasan dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Endoskopi, atau yang dikenal sebagai gastroskopi untuk kasus GERD, menggunakan selang lentur berkamera yang dimasukkan lewat mulut. Alat ini memungkinkan dokter mengintip keadaan kerongkongan, lambung, hingga usus. Hasilnya? Berbagai gangguan seperti peradangan atau luka bisa terdeteksi. Itulah yang mungkin jadi dalang di balik asam lambung yang terus menerus naik.

Untuk kasus yang lebih rumit, ada teknologi lebih canggih bernama Endoscopic Ultrasound (EUS). Teknik ini memadukan endoskopi dengan USG, sehingga gambaran yang dihasilkan jauh lebih detail dan mendalam.

“Dengan EUS, struktur dinding saluran cerna bisa dilihat dengan sangat rinci. Bahkan, pada beberapa kasus, terapi seperti penyuntikan obat bisa langsung diberikan di area bermasalah,” jelasnya.

Kabar baiknya, layanan pemeriksaan ini umumnya tetap berjalan di rumah sakit besar, termasuk saat libur panjang seperti Lebaran. Jadi, akses untuk pasien yang membutuhkan tetap terbuka.

Lalu, bagaimana dengan pasien yang berpuasa di bulan Ramadhan? Pemeriksaan tetap bisa dilakukan, dengan catatan. Pasien perlu berdiskusi dulu dengan dokter untuk menentukan waktu yang tepat.

“Biasanya, kami sarankan prosedur dilakukan sebelum berbuka atau malam hari setelah makan. Persiapan khusus seperti puasa makan dan minum beberapa jam sebelumnya juga harus diikuti,” katanya.

Setelah penyebabnya ketemu, penanganan GERD akan disesuaikan. Rangkaian terapinya bisa beragam. Mulai dari pemberian obat, perubahan gaya hidup, sampai mengatur pola makan dengan menghindari pemicu. Menjaga berat badan ideal dan mengatur posisi tidur misalnya dengan bantal lebih tinggi juga kerap dianjurkan.

Jangan lupakan faktor stres. Pengelolaannya seringkali jadi kunci penting untuk mencegah kekambuhan.

Pada kondisi tertentu, jika GERD sudah menyebabkan komplikasi atau tak mempan dengan obat, opsi operasi atau prosedur minimal invasif bisa dipertimbangkan. Tujuannya untuk memperkuat katup kerongkongan, agar asam lambung tidak mudah balik arah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar