Rupiah Menguat 159 Poin ke Rp17.701 per Dolar AS, Diproyeksikan Fluktuatif hingga Akhir Sesi

- Senin, 15 Juni 2026 | 10:45 WIB
Rupiah Menguat 159 Poin ke Rp17.701 per Dolar AS, Diproyeksikan Fluktuatif hingga Akhir Sesi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan penguatan signifikan pada awal perdagangan pekan ini, melanjutkan tren positif yang sempat terhenti pada penutupan sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, Senin (15/6/2026), rupiah diperdagangkan di level Rp17.701 per dolar AS pada pukul 10.13 WIB. Angka tersebut menunjukkan apresiasi sebesar 159 poin atau setara 0,89 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.860 per dolar AS.

Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah tercatat di level Rp17.916 per dolar AS. Perbedaan angka ini mencerminkan variasi sumber acuan yang lazim terjadi di pasar keuangan. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan cenderung fluktuatif, meskipun ia memproyeksikan mata uang Garuda berpotensi melemah pada akhir sesi perdagangan.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.780 per USD hingga Rp18.040 per USD,” jelas Ibrahim dalam keterangannya.

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah keputusan Bank Dunia yang merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026. Lembaga keuangan internasional tersebut kini memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,0 persen, lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya pada April lalu yang hanya sebesar 4,7 persen.

Revisi ini didorong oleh kinerja perekonomian pada kuartal pertama yang melampaui ekspektasi. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, menjadikannya pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak kuartal II-2021. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama di balik pencapaian tersebut.

“Konsumsi tersebut didorong momen bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, pembayaran THR pegawai negeri sipil yang dipercepat, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” papar Ibrahim.

Sepanjang tahun ini, konsumsi swasta diperkirakan terus bertumbuh di kisaran 5,0 persen, ditopang oleh stimulus fiskal pemerintah. Di sisi lain, konsumsi pemerintah diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni mencapai 8,7 persen. Dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto pada kuartal I-2026 juga menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan sebesar 6,0 persen.

Namun, di balik optimisme tersebut, Bank Dunia memberikan catatan penting. Ketergantungan pemerintah terhadap konsumsi sebagai penyangga pertumbuhan jangka pendek tetap menyimpan risiko. Ruang fiskal yang semakin terbatas serta beban subsidi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak global menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan.

“Selain itu, ketahanan ekonomi domestik juga diuji oleh guncangan sentimen pasar keuangan menyusul pengumuman evaluasi indeks MSCI,” pungkas Ibrahim.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar