Kebiasaan tidur larut malam atau durasi istirahat yang tidak sesuai anjuran tidak semata-mata menyebabkan kelelahan dan hilangnya konsentrasi keesokan harinya. Sejumlah riset ilmiah justru mengungkapkan bahwa kekurangan tidur secara kronis mampu memicu berbagai penyakit serius, bahkan meningkatkan risiko kematian akibat gangguan kardiovaskular.
Dokter umum sekaligus pegiat edukasi kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, dalam kanal YouTube pribadinya memaparkan bahwa beberapa studi telah membuktikan dampak signifikan dari kurang tidur terhadap kesehatan. Salah satu temuan yang paling menonjol adalah peningkatan risiko mortalitas akibat penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke.
“Ada dua jurnal yang menjelaskan hal ini. Pertama, dari European Heart Journal Acute Cardiovascular Care. Mereka melakukan meta-analisis berskala besar terhadap 19 studi. Meta-analisis merupakan tingkat bukti tertinggi dalam evidence-based medicine. Hasilnya benar, durasi tidur yang pendek secara signifikan meningkatkan risiko kematian akibat PJK dan stroke, baik pada populasi usia produktif maupun lansia,” ujar dr. Tirta.
Lebih lanjut, kebiasaan tidur kurang dari enam jam per hari juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik. Diabetes melitus, hipertensi, hingga obesitas menjadi sederet gangguan yang mengintai mereka yang kerap begadang.
“Dari jurnal Sleep Medicine tahun 2017, berupa systematic review dan meta-analisis terhadap 153 studi kohort, kurang tidur kronis di bawah enam jam terbukti secara linear meningkatkan risiko relatif terhadap stroke, diabetes melitus, hipertensi, obesitas, dan PJK,” jelasnya.
Menurut dr. Tirta, kondisi tersebut terjadi karena tubuh terus berada dalam mode siaga. Sistem saraf yang bertanggung jawab terhadap respons stres terus aktif, seolah-olah individu sedang menghadapi tekanan.
“Ketika kita kurang tidur, sistem saraf akan masuk ke respons fight or flight. Tubuh terus siaga seolah sedang menghadapi tekanan atau stres,” ujarnya.
Akibatnya, tekanan darah cenderung meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu hipertensi kronis, terutama pada mereka yang terbiasa begadang.
“Tekanan darah akan naik, jantung berdebar lebih kencang, sehingga risiko hipertensi kronis meningkat. Makanya orang yang rutin begadang biasanya tekanan darah sistoliknya sedikit di atas normal, sekitar 130 sampai 140 mmHg,” tutur dr. Tirta.
Ia juga menjelaskan bahwa kurang tidur mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh. Hormon ghrelin yang memicu rasa lapar meningkat, sementara sensitivitas insulin menurun. Keduanya berkontribusi terhadap gangguan metabolisme.
“Ketika kita tidur nyenyak pada fase deep sleep, tubuh mengeluarkan hormon pertumbuhan dan hormon-hormon yang berperan dalam proses pemulihan. Kalau pola tidur berantakan, hormon-hormon ini tidak keluar optimal sehingga proses perbaikan sel terganggu,” paparnya.
Di sisi lain, kurang tidur juga dapat merusak lapisan endotel pada pembuluh darah. Kerusakan ini memicu penumpukan kolesterol jahat atau LDL (Low-Density Lipoprotein), yang menjadi salah satu faktor utama terbentuknya plak penyebab penyakit jantung koroner.
“Kerusakan endotel atau lapisan pembuluh darah menyebabkan penumpukan LDL lebih mudah terjadi. Akibatnya muncul plak yang meningkatkan risiko aterosklerosis atau penyakit jantung koroner,” pungkas dr. Tirta.
Artikel Terkait
dr. Tirta Ungkap Olahraga Rutin Stabilkan Imunitas, tapi Peringatkan Bahaya Latihan Berlebihan
Muharram 1448 H Jatuh pada 16 Juli 2026, Ini Amalan Doa Akhir dan Awal Tahun
Guru Besar UI Ungkap Tiga Langkah Ilmiah Keluar dari Jerat Kecanduan Pornografi
Warga Jakarta Mulai Beli Lahan Makam Sejak Dini Demi Tak Membebani Anak