Kecanduan pornografi bukan sekadar persoalan moral, melainkan telah terbukti secara ilmiah mampu menggerogoti kesehatan mental, menurunkan produktivitas, dan melemahkan kendali diri seseorang. Meski dampaknya demikian serius, para ahli menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah akhir dari segalanya. Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang konsisten, kebiasaan tersebut dapat dikurangi secara bertahap hingga benar-benar dihentikan.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Agustino Zulys, membagikan sejumlah langkah strategis untuk membantu seseorang keluar dari jerat kecanduan pornografi. Menurutnya, langkah pertama yang paling mendasar adalah memutus akses terhadap segala bentuk pemicu. Kemudahan mengakses situs, akun media sosial, grup, atau konten serupa menjadi faktor utama yang membuat seseorang terus terjebak dalam lingkaran kecanduan.
“Bagaimana mengatasinya? Pertama, putuskan pemicunya, akunnya, websitenya, grup-grupnya, kontennya. Ini bukan pekerjaan kita saja, tapi juga pekerjaan instansi pemerintah. Bekerjalah untuk melindungi anak bangsa,” kata Prof. Zulys dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.
Ia menambahkan, semakin sedikit seseorang terpapar pada pemicu, semakin besar peluangnya untuk mampu mengendalikan kebiasaan tersebut. Langkah ini, menurutnya, membutuhkan kerja sama tidak hanya dari individu, tetapi juga dari pihak berwenang untuk menekan peredaran konten negatif.
Di sisi lain, kecanduan pornografi tidak bisa dilepaskan dari mekanisme kimiawi di dalam otak. Konten pornografi memicu pelepasan dopamin, senyawa yang bertanggung jawab terhadap rasa senang dan penghargaan diri. Akibatnya, seseorang terus mencari sensasi serupa secara berulang. Untuk memutus siklus ini, Prof. Zulys menyarankan agar sumber dopamin dialihkan ke aktivitas yang lebih sehat dan produktif.
“Kedua, ganti sumber dopamin dengan olahraga, karya, ilmu, dan aktivitas sosial,” ujarnya.
Aktivitas seperti berolahraga, belajar, berkarya, atau berinteraksi dengan lingkungan sosial tidak hanya memberikan rasa senang, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh. Dengan kata lain, kenikmatan jangka pendek dari pornografi digantikan oleh kepuasan yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Langkah ketiga yang tak kalah penting adalah memperkuat aspek spiritual. Menurut Prof. Zulys, mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah, puasa, dan zikir dapat menciptakan ketenangan batin serta memberikan kebahagiaan yang lebih autentik.
“Ketiga, dekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah, puasa, dan zikir. Selain menenangkan hati, ia juga memberikan kebahagiaan sejati. Pornografi menjanjikan kenikmatan beberapa menit, tetapi bisa mencuri produktivitas bertahun-tahun,” tuturnya.
Dari sisi neurologis, Prof. Zulys menjelaskan bahwa konsumsi pornografi secara berlebihan dapat menyebabkan desensitisasi, yaitu menurunnya sensitivitas otak terhadap rangsangan yang sebelumnya dianggap menarik. Akibatnya, seseorang cenderung membutuhkan durasi yang lebih lama atau mencari konten yang lebih ekstrem untuk memperoleh sensasi yang sama.
“Akibatnya, otak mengalami desensitisasi, kehilangan sensitivitas. Yang dulu menarik, sekarang terasa biasa. Maka, seseorang membutuhkan durasi lebih lama dan konten yang lebih ekstrem untuk mendapatkan sensasi yang sama,” jelasnya.
Ia mengutip sebuah penelitian dari Max Planck Institute di Jerman yang menemukan adanya perubahan signifikan pada area otak yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan regulasi emosi. Semakin tinggi konsumsi pornografi, semakin lemah konektivitas antara pusat penghargaan dan pusat kontrol diri di otak.
“Sederhananya, dorongan keinginan semakin kuat, sementara kemampuan mengendalikannya semakin melemah,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Warga Jakarta Mulai Beli Lahan Makam Sejak Dini Demi Tak Membebani Anak
Limbad Jenguk Haji Bolot di Rumah Sakit, Doakan Sang Sahabat Segera Sembuh
Betrand Peto Diduga Sindir Adik Sarwendah, Ungkap Pernah Ditampar
Miss Indonesia 2026 Audisi di Yogyakarta, Tak Cari Fisik Tapi Karakter dan Kepedulian Sosial