Kemenkes Genjot Perang Melawan Kusta, Fokus pada Deteksi Dini dan Hapus Stigma
Jakarta - Komitmen pemerintah untuk mengakhiri penyakit kusta di Indonesia kembali ditegaskan. Kali ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggarisbawahi tiga strategi kunci: deteksi dini, pengobatan tuntas, dan pencegahan bagi mereka yang punya kontak erat dengan pasien.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tak menampik bahwa penyakit ini sarat dengan beban sejarah yang kelam. Kusta, kata dia, sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan kerap dikaitkan dengan stigma serta diskriminasi yang sangat menyakitkan.
“Kusta ini sering diasosiasikan dengan negara miskin karena sejak ribuan tahun lalu penyakit ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga muncul berbagai stigma. Padahal sekarang kita sudah tahu penyebabnya adalah bakteri dan obatnya sudah tersedia,” ujar Menkes Budi.
Nah, itulah poin pentingnya. Secara medis, kusta sebenarnya disebabkan oleh bakteri dan yang terpenting, bisa disembuhkan. Sayangnya, anggapan masyarakat seringkali berkutat pada mitos dan ketakutan yang tidak berdasar.
Menurut Budi, kunci utamanya justru terletak pada penemuan kasus. “Jangan takut jika kasus yang ditemukan banyak. Justru itu menunjukkan sistem deteksi kita bekerja dengan baik,” tegasnya.
Dia mendorong agar sebanyak mungkin kasus ditemukan, sehingga penanganan bisa segera dilakukan. Logikanya sederhana: semakin banyak yang ditemukan dan diobati, rantai penularan akan semakin mudah diputus.
“Temukan sebanyak-banyaknya agar bisa segera diobati, karena obatnya ada dan pengobatannya bisa selesai,” kata Menkes.
Proses pengobatannya sendiri disebut relatif sederhana. Dengan terapi rutin, seorang pasien umumnya bisa menyelesaikan pengobatan dalam kurun waktu sekitar enam bulan. Asal, ya, disiplin dan tuntas.
Di lapangan, upaya skrining juga diperkuat lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Tujuannya jelas: menjaring kasus lebih awal, sebelum kondisinya bertambah parah.
“Strateginya jelas, temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan,” ujar Menkes menegaskan.
Perhatian khusus juga diberikan untuk wilayah Indonesia Timur. Di sana, Kemenkes mendorong pemeriksaan tambahan, termasuk pemeriksaan genetik, untuk mendeteksi kemungkinan resistensi obat. Langkah ini penting agar terapi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.
Momentum Hari Kusta Sedunia pun dianggap sebagai kesempatan emas untuk menggalang kembali semangat bersama. Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni, menyoroti hal ini.
“Peringatan Hari Kusta Sedunia merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta,” ujar dr Andi.
Pada akhirnya, ajakan Kemenkes terbuka untuk semua. Masyarakat diminta untuk tidak ragu memeriksakan diri jika ada gejala, sekaligus berperan aktif menghilangkan stigma. Dukungan sosial ini diharapkan bisa membuat pasien datang lebih cepat, diobati dengan tepat, dan sembuh sepenuhnya.
Perlahan tapi pasti, eliminasi kusta bukan lagi sekadar wacana. Tapi sebuah target yang sedang dikejar dengan strategi yang, setidaknya di atas kertas, sudah cukup jelas.
Artikel Terkait
Andre Taulany Buka Suara soal Kasus Dugaan Penganiayaan Mantan Istri, Pilih Tak Banyak Komentar
Kuasa Hukum Nikita Mirzani Minta Dirjen Pajak Audit Penghasilan Rp6,7 Miliar Reza Gladys
Daehoon Na Ultimatum Mantan Istri dan Kekasihnya: Jangan Seret Anak ke Konflik Rumah Tangga
Elly Sugigi Resmi Menikah untuk Keenam Kalinya dengan Mahar Emas 100 Gram dan Satu Unit Apartemen