Mengukir Identitas: Perjalanan Dyah Ayu sebagai Dalang Perempuan di Tengah Arus Budaya Pop
Minat generasi muda terhadap kesenian tradisional kerap kali tenggelam oleh derasnya budaya populer. Di tengah dominasi K-POP, Harajuku, dan anime, hanya segelintir anak muda yang memilih untuk menggeluti warisan leluhur. Salah satunya adalah Dyah Ayu Kusumaning Tyas.
Mahasiswi semester satu jurusan Bahasa Daerah Universitas Negeri Solo (UNS) ini memilih jalan yang tidak biasa: menjadi seorang dalang wayang kulit perempuan. Ketertarikannya pada dunia pewayangan bukanlah hal yang baru. "Saya selalu suka dengan kesenian, khususnya yang diajarkan oleh orang tua saya. Mereka adalah penggiat seni tradisional wayang kulit dan penari. Seluk beluk pewayangan sudah menjadi santapan sehari-hari sejak saya sekolah TK. Kebetulan, saya tidak berminat dengan budaya anak muda saat ini," ujarnya dengan tegas.
Perjalanannya menjadi dalang tidak tanpa rintangan. Ia mengungkapkan bahwa menginternalisasi karakter setiap tokoh wayang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Memeragakan pola tingkah laku tokoh-tokoh tersebut menjadi persoalan tersendiri, terlebih bagi seorang dalang perempuan. "Teknik sabetan atau gerakan dalam cerita pewayangan saat pertarungan masih menjadi sedikit kendala. Awalnya susah, tetapi seiring waktu dan jam terbang, perlahan membaik. Namun, belum maksimal jika dibandingkan dengan gaya sabetan dalang pria," imbuhnya saat ditemui dalam kompetisi Festival Dalang Muda 2025 di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.
Perempuan asal Madiun, Jawa Timur ini juga menyoroti eksistensi dalang perempuan yang masih langka di berbagai pagelaran. Menurutnya, penguatan mental untuk membangun ciri khas yang berbeda dengan dalang pria adalah kunci. "Gelaran wayang kulit ini semalam suntuk hingga pagi. Ceritanya harus tegas sesuai naskah dan harus kuat melekan. Dulu sewaktu kecil, saya ikut bapak pagelaran dan diberikan waktu jadi pembuka sebelum beliau tampil. Saat ini, saya sering tampil full jika ada undangan. Itu butuh latihan dan konsistensi. Menjadi dalang tidak mudah, apalagi perempuan," tutur perempuan 19 tahun yang mengidolakan dalang Ki MPP Bayu Aji tersebut.
Di balik perjuangannya, dukungan penuh datang dari kedua orang tuanya, terutama Ki Yogi "Bagong", ayahnya yang juga seorang dalang. Dalam setiap pentas, peran orang tuanya selalu hadir, mulai dari menyiapkan wayang, merias, hingga mendoakannya sebelum naik panggung. "Saya bersama ibunya selalu mengenalkan apa yang kami lakukan dalam dunia kesenian, khususnya pewayangan dan tari. Kami tidak memaksa Ayu untuk berkecimpung di wayang kulit. Jika tertarik dan suka, kami arahkan untuk belajar yang lebih baik. Tidak mudah menjadi seorang dalang perempuan karena kesempatannya belum banyak untuk pentas-pentas besar," ujar Ki Yogi.
Dyah Ayu bersama keluarganya hadir dalam kegiatan Festival Dalang Muda 2025 di Taman Budaya Jawa Timur. Kegiatan yang diikuti oleh 30 dalang wayang kulit dari berbagai kota di Jawa Timur dengan rentang usia 17 hingga 40 tahun ini berlangsung penuh antusiasme. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Wayang Nasional 2025, menampilkan beberapa pagelaran dan pameran wayang kulit yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur bersama Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI).
Artikel Terkait
Amanda Manopo Ucapkan Terima Kasih kepada Penggemar Usai Lahirkan Putra Pertama
Wardatina Mawa Jaga Jarak dari Pria yang Mendekat, Fokus Selesaikan Proses Perceraian
Ahli: Anak Perlu Minum Susu Hingga Remaja untuk Optimalisasi Pertumbuhan Tulang
Sarwendah Minta Maaf Usai Viral Sindir Ruben Onsu dengan Kata Cong, Kuasa Hukum Soroti Dampak ke Anak