Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono mengungkapkan bahwa anggaran pembangunan fisik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih membutuhkan dana sekitar Rp 2,5 miliar per lokasi. Menurut Menkop Ferry, anggaran tersebut tergolong murah untuk mencakup seluruh kebutuhan fisik koperasi.
"Ya sekitar Rp 2,5 miliar. Itu pembangunan fisiknya, kelengkapannya, sarana pendukung, termasuk kendaraan operasional. Itu sudah murah, lebih murah dari rata-rata," jelas Ferry Juliantono di Jakarta, Jumat (7/11).
Program Koperasi Desa Merah Putih saat ini telah memulai pembangunan infrastruktur fisik secara serentak di 7.923 titik lokasi di seluruh Indonesia.
Pembangunan Koperasi Merah Putih ini didukung pembiayaan dari bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan plafon kredit sebesar Rp 3 miliar per unit koperasi. Alokasi dana tersebut digunakan untuk investasi fisik koperasi dan modal kerja operasional.
Infrastruktur Koperasi Desa Merah Putih terdiri dari tujuh gerai wajib yang meliputi kantor koperasi, gerai sembako, unit simpan pinjam, klinik desa, apotek desa, cold storage (gudang penyimpanan dingin), dan sarana logistik termasuk gudang.
PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan fisik gerai, pergudangan, dan kelengkapan Kopdes Merah Putih. Termin pertama senilai hampir Rp 600 miliar telah dicairkan sebagai uang muka pembangunan.
Pemerintah menargetkan percepatan pembangunan dengan target 40.000 bidang tanah terdata pada November, dan 20.000 titik mulai dibangun. Pada Desember, ditargetkan 40.000-50.000 titik pembangunan baru dengan total tanah terdata mencapai 80.000 bidang. Seluruh pembangunan fisik Kopdes Merah Putih ditargetkan selesai pada Maret 2026.
Artikel Terkait
Bundamedik (BMHS) Targetkan Pertumbuhan Dua Digit pada 2026
NPGF Dapat Kredit Rp54,02 Miliar dari Bank Sinarmas untuk Modal Kerja
Jinlong Resources Mulai Tender Wajib atas Saham Hotel Fitra International
Permintaan Emas Global Tembus Rekor 5.002 Ton pada 2025, Investasi Jadi Penggerak Utama