Harga emas dunia kembali meroket di akhir pekan kemarin, tepatnya pada Jumat (27/3/2026). Kenaikan ini dipicu aksi beli investor saat harga sempat melemah, atau yang biasa disebut dip-buying. Padahal, awal pekan lalu, logam mulia ini sempat terpuruk dan menyentuh level terendah dalam empat bulan.
Pada penutupan perdagangan, emas spot tercatat melesat 2,67 persen ke level USD 4.495,29 per troy ons. Cukup jauh dari titik terendahnya di USD 4.097,99 pada Senin. Nah, lonjakan ini terjadi bersamaan dengan pengamatan pasar terhadap tanda-tanda meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut Daniel Pavilonis, seorang senior market strategist di RJO Futures, prospek ke depan terlihat cukup cerah.
"Kita kemungkinan akan melihat kenaikan bertahap dalam beberapa pekan ke depan. Jika situasi Iran bisa mereda, pasar memiliki peluang yang cukup besar untuk kembali mengambil risiko," ujarnya.
Sentimen ini sepertinya mulai menyebar. Survei mingguan terbaru dari Kitco News menunjukkan, setengah dari analis Wall Street yang disurvei kembali bersikap bullish. Tak ketinggalan, investor ritel pun menunjukkan bias yang sama, meski masih terbilang ringan, setelah melihat kinerja emas yang solid sepanjang pekan.
James Stanley, senior market strategist di Forex.com, dengan tegas menyatakan "Naik".
"Respons di akhir pekan cukup menggembirakan bagi kubu bullish dan dengan beberapa jam tersisa sebelum penutupan, masih ada kemungkinan terbentuk pola hammer pada grafik mingguan," jelas Stanley.
Di sisi lain, Adrian Day dari Adrian Day Asset Management punya pandangan yang sedikit lebih berhati-hati. Meski begitu, ia melihat bias menguat.
"Saya memperkirakan pergerakan naik-turun masih terjadi, tetapi dengan bias menguat. Saya ragu menyebutnya sebagai titik dasar, namun penutupan perdagangan Kamis sedikit di atas USD 4.350 bisa jadi merupakan level tersebut. Memang belum sepenuhnya mencapai target penurunan saya, tetapi sudah mendekati," kata Day.
Secara rinci, dari 16 analis Wall Street yang berpartisipasi, delapan orang (50%) memprediksi kenaikan untuk pekan ini. Hanya tiga analis (19%) yang melihat potensi penurunan, sementara sisanya lima orang (31%) menilai pergerakan harga akan cenderung datar atau sideway.
Yang menarik, sentimen investor kecil-kecilan alias ritel untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir sejalan dengan para profesional. Dari 263 suara yang masuk dalam jajak pendapat online Kitco, 139 responden (53%) yakin harga akan naik. Sebanyak 60 orang (23%) memprediksi turun, dan 64 investor (24%) memperkirakan harga akan bergerak konsolidatif.
Pekan ini, meski hari perdagangan lebih singkat karena libur Good Friday, pasar tetap punya banyak bahan untuk dikunyah. Laporan ketenagakerjaan AS untuk Maret tetap akan dirilis sesuai jadwal dan pasti jadi sorotan utama.
Agenda ekonomi lainnya juga padat. Mulai dari pidato Ketua The Fed Jerome Powell di Harvard pada Senin, data JOLTS dan Consumer Confidence di hari Selasa, hingga rilis data ADP Employment, Retail Sales, dan ISM Manufacturing PMI pada Rabu. Kamis pagi nanti, klaim pengangguran mingguan akan menutup rangkaian data penting sebelum akhir pekan.
Artikel Terkait
BRI dan Unsoed Resmi Luncurkan Program Desa BRILiaN 2026 untuk Transformasi Desa Berbasis Teknologi
BPII Investasi Rp150 Miliar di Perusahaan Induk Properti, Kuasai 19,3% Saham
Proyek LNG CGAS di Karawang Terancam Molor, Baru 70 Persen
Harga BBM Nonsubsidi Serentak Naik per Mei 2026, Vivo dan BP Paling Awal Menyesuaikan