Sampah Menggunung di Pasar Kramat Jati, Pedagang Keluhkan Gangguan Usaha dan Retribusi

- Senin, 30 Maret 2026 | 08:45 WIB
Sampah Menggunung di Pasar Kramat Jati, Pedagang Keluhkan Gangguan Usaha dan Retribusi

Gunungan sampah yang tak kunjung diangkut kembali memusingkan para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Bukan cuma soal bau, aktivitas jual beli mereka pun jadi kacau balau.

"Jalannya sekarang makin sempit karena sampah numpuk tinggi. Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat," keluh Suratno, seorang pedagang berusia 52 tahun, pada Senin lalu. Suaranya terdengar kesal.

Menurutnya, kondisi itu sudah berlangsung cukup lama. Tapi, sampai sekarang belum ada perbaikan yang berarti. Padahal, bau menyengat dari sampah buah dan sayuran busuk itu sampai masuk ke dalam kios, mengganggu kenyamanan berdagang.

"Kita ini dagang, tapi hawanya bau terus. Sangat mengganggu," ujarnya.

Persoalannya nggak cuma di situ. Akses distribusi barang pun ikut terdampak. Padahal, bongkar muat barang adalah urat nadi pasar induk semacam ini, yang memasok kebutuhan pangan ke banyak daerah. Kalau lalu lintasnya macet karena sampah, ya ujung-ujungnya pasokan bisa terlambat.

Di sisi lain, pedagang lain bernama Susanti punya keluhan yang tak kalah seru. Dia menyoroti soal retribusi kebersihan yang tetap harus dibayar, meski pelayanan sampah jauh dari kata memadai.

"Tidak ada keringanan, padahal sampah numpuk terus. Kita tetap ditagih tiap bulan, bahkan telat sedikit langsung diperingati," tutur wanita 49 tahun itu.

Besaran retribusinya bervariasi, mulai dari Rp600 ribu hingga Rp900 ribu per bulan, tergantung luas kios. Bagi Susanti, kondisi kumuh yang ada sama sekali nggak sebanding dengan uang yang mereka keluarkan. Ia dan rekan-rekan pedagang merasa jelas dirugikan.

"Kalau dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan di lingkungan pasar," tegas Susanti. Ia berharap pengelola pasar atau pemerintah daerah segera turun tangan.

Memang, kondisi di lapangan terbilang parah. Menurut sejumlah saksi, pada Minggu (29/3) lalu, tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) itu tingginya mencapai sekitar enam meter. Bahkan mengalahkan tinggi lampu penerangan jalan di sekitarnya. Sepanjang hari itu, tak terlihat ada aktivitas pengangkutan sama sekali.

Genangan air lindi di sekitarnya membuat jalanan becek dan licin, menambah risiko bagi siapa pun yang melintas. Pedagang menduga, penumpukan ekstrem ini terjadi karena armada pengangkut menuju TPST Bantargebang terbatas. Alhasil, sampah menumpuk dari hari ke hari, menggunung, dan mengganggu segala aktivitas.

Sudah saatnya masalah klasik ini dicarikan solusi yang tuntas. Bukan sekadar dibersihkan saat sudah menggunung, tapi diatur dengan sistem yang lebih baik. Pasar sebesar Kramat Jati tentu butuh penanganan yang serius.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar