Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kondisi perekonomian nasional. Pandangan ini disampaikan oleh pengamat ekonomi Surya Vandiantara yang menekankan perlunya melihat spektrum indikator yang lebih luas dan komprehensif.
Menurut Surya, terdapat sejumlah variabel ekonomi lain yang sama pentingnya untuk diperhatikan. Beberapa di antaranya adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, serta kondisi fiskal negara. Ia menilai bahwa menyimpulkan keadaan ekonomi hanya berdasarkan pergerakan satu indikator, seperti nilai tukar, merupakan pendekatan yang tidak utuh.
"Narasi yang berupaya mendiskreditkan perekonomian Indonesia hanya dengan menggunakan satu indikator saja seperti nilai mata uang Dolar Amerika Serikat, merupakan narasi yang tidak komprehensif," ungkap Surya, Sabtu (23/5/2026).
Dalam keterangannya, Surya menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kategori aman. Ia merujuk pada data pertumbuhan ekonomi yang konsisten mencatatkan tren positif dalam beberapa periode terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen. Angka ini meningkat dibandingkan capaian triwulan IV 2025 yang sebesar 5,39 persen dan triwulan III 2025 yang mencapai 5,04 persen.
"Fakta ini menunjukkan bahwa kenaikan Dolar Amerika Serikat tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelasnya.
Surya juga menyoroti bahwa penggunaan dolar AS lebih dominan dalam aktivitas bisnis tertentu, seperti ekspor-impor dan investasi valuta asing. Kegiatan-kegiatan ini, menurutnya, lebih banyak dilakukan oleh masyarakat di wilayah perkotaan dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Oleh karena itu, dampak fluktuasi nilai tukar tidak selalu terasa secara merata di seluruh lapisan masyarakat.
Meskipun kondisi dinilai masih terkendali, Surya mengingatkan pemerintah untuk tetap menyiapkan langkah mitigasi guna menjaga stabilitas ekonomi. Perhatian khusus perlu diberikan pada risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dapat memicu tekanan inflasi.
"Pemerintah telah melakukan langkah antisipasi strategis dengan meningkatkan subsidi agar kenaikan harga BBM bisa diredam, sehingga masyarakat Indonesia bisa tetap menikmati harga BBM seperti sedia kala," tandasnya.
Artikel Terkait
Dosen IAIN Bone dan LAZNAS WIZ Salurkan 80 Al-Qur’an serta Bantuan Pendidikan ke Siswa di Dua Boccoe
Persib Bandung Juara Super League 2025/2026 Usai Tahan Imbang Persijap, Cetak Sejarah Tiga Gelar Beruntun
Madura United Kunci Tiga Poin Penting Usai Taklukkan PSM Makassar 2-0
Prajurit TNI AL Gugur Saat Jalani Pendidikan Pasukan Elite Denjaka di Cilandak