Mulai hari ini, Senin (30 Maret 2026, Bank Indonesia punya senjata baru. Mereka resmi mengoperasikan transaksi repo valuta asing. Langkah ini jelas strategis, diambil untuk menjaga stabilitas rupiah yang terus diuji dinamika ekonomi global yang tak kunjung reda.
Erwin Gunawan Hutapea, sang Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, yang menjelaskan detailnya. Instrumen baru ini akan memanfaatkan Sekuritas Valas BI (SVBI) dan Sukuk Valas BI (SUVBI) sebagai aset dasarnya.
Jadi, apa tujuannya? Intinya, BI ingin strategi operasi moneternya lebih berorientasi pasar. Dengan begitu, transmisi kebijakan moneter diharapkan lebih efektif. Pasar Uang dan Pasar Valas (PUVA) juga bisa terdalamkan lebih cepat.
Nah, dampaknya cukup menarik. BI memproyeksikan aktivitas perdagangan di pasar sekunder untuk SVBI dan SUVBI bakal melonjak. Ini kabar baik buat perbankan nasional, karena mereka akan punya fleksibilitas lebih dalam mengatur ketersediaan valas. Fleksibilitas itu penting banget di tengah gejolak yang sulit ditebak.
Transaksi ini nantinya bisa diikuti oleh primary dealer PUVA. Peran mereka krusial, yaitu menjaga likuiditas tetap mengalir lancar di pasar keuangan.
Artikel Terkait
Indeks Bisnis-27 Anjlok 1,37%, AMRT dan BBCA Tekan Pasar
Bank Raya Luncurkan Pinang Flexi, Solusi Kredit Digital untuk Kebutuhan Pascalebaran
Polisi Imbau Warga Antisipasi Macet Parah di Sekitar GBK Sore Ini Jelang Final Timnas
Analis Proyeksikan Pergerakan IHSG Sideways di Pekan Perdagangan Singkat