Tantangan & Peluang Kerja Sama Indonesia-China 2025: Banjir Impor, Defisit, dan Strategi Hilirisasi

- Minggu, 02 November 2025 | 09:30 WIB
Tantangan & Peluang Kerja Sama Indonesia-China 2025: Banjir Impor, Defisit, dan Strategi Hilirisasi
Hubungan Indonesia-China 2025: Tantangan & Peluang Kerja Sama Ekonomi

Hubungan Indonesia-China 2025: Antara Peluang Investasi dan Tantangan Banjir Impor

Memasuki usia ke-75 tahun pada 2025, hubungan diplomatik Indonesia dan Republik Rakyat China (RRC) menghadapi berbagai tantangan kompleks di tengah eratnya kerja sama bilateral. Isu keamanan di Laut China Selatan dan persoalan ekonomi menjadi sorotan utama yang perlu dicari solusinya.

Seminar Bahas Dinamika dan Masa Depan Hubungan Ekonomi

Berbagai tantangan ini dibahas mendalam dalam seminar “Strategi Tiongkok Mencara Pasar: Tantangan dan Peluang bagi Indonesia” yang digelar di Kampus Pascasarjana Universitas Paramadina, Jakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Paramadina Asia Pacific Institute (PAPI) bersama Forum Sinologi Indonesia (FSI) dan Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI).

Perlunya Evaluasi Keseimbangan Kerja Sama

Direktur PAPI, Peni Hanggraini, menyampaikan bahwa hubungan kedua negara kini perlu dievaluasi agar kerja sama ekonomi dapat berjalan secara lebih seimbang. “Dahulu hubungan terjalin lewat pelayaran dan pertukaran budaya. Kini kerja sama berkembang ke perdagangan, investasi, dan teknologi. Ini adalah peluang sekaligus tantangan,” ujarnya.

Ancaman Banjir Impor dan Melemahnya Industri Lokal

Ketua FSI, Johanes Herlijanto, menyoroti fenomena banjir barang asal China di pasar Indonesia. Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan industri lokal dan mengancam kemandirian ekonomi nasional. “Produk murah asal China bisa membuat industri dalam negeri kalah bersaing dan menimbulkan ketergantungan pada impor,” tegasnya.

Strategi China dan Dampaknya pada Harga Ekspor

Ekonom Universitas Indonesia, Mohammad Dian Revindo, menjelaskan akar murahnya produk China. “Tiongkok menahan apresiasi mata uangnya dan melakukan praktik dumping, sehingga harga ekspor mereka tetap rendah,” ungkapnya. Dia menilai, Indonesia perlu memperkuat kebijakan industri, riset, dan inovasi agar mampu bersaing dengan produk impor.

Dampak Ganda Investasi China: Transfer Teknologi vs. Defisit Perdagangan

Wakil Ketua Komite Tetap KADIN, Yen Yen Kuswati, menyoroti sisi ganda kerja sama dengan China. Di satu sisi, ada peningkatan investasi dan transfer teknologi, namun di sisi lain membawa risiko. “Persaingan harga menekan pelaku usaha lokal dan berpotensi memperlebar defisit perdagangan,” jelasnya.

Data Perdagangan dan Harapan dari Program Hilirisasi

Pejabat Kementerian Perindustrian, Laode Ikrar Hastomi, menegaskan pentingnya memperkuat sektor manufaktur nasional. Dia mengungkap data perdagangan 2024: ekspor Indonesia ke China mencapai US$62,44 miliar, sedangkan impor mencapai US$72,73 miliar. “Meski defisit, program hilirisasi diharapkan mampu memperbaiki neraca perdagangan,” ujarnya.

Komitmen Nasionalisme dari Generasi Muda Tionghoa Indonesia

Perwakilan IPTI, Septeven Hwang, menegaskan komitmen generasi muda Tionghoa Indonesia. “Kami etnis Tionghoa, tapi nasionalisme kami adalah Indonesia. Kami berada di sisi tanah air yang kami cintai,” tegasnya, menutup seminar yang menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi dalam hubungan bilateral ini.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar