Nah, ini yang menarik. Meski emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi, daya tariknya bisa memudar kalau suku bunga tinggi. Alasannya sederhana: emas tidak memberikan imbal hasil seperti aset lainnya. Saat ini, pelaku pasar memangkas ekspektasi mereka. Peluang The Fed memotong suku bunga tahun ini dianggap hanya sekitar 33 persen, jauh lebih rendah dari perkiraan dua kali pemangkasan sebelum konflik meletup.
Namun begitu, analis Commerzbank punya pandangan. Selama pasar belum benar-benar serius mempertimbangkan kenaikan suku bunga oleh The Fed dan sejauh ini sinyalnya belum terlihat maka harga emas kemungkinan besar tidak akan anjlok lebih dalam.
Dukungan lain datang dari pelemahan dolar dan harga minyak yang turun. Dolar yang melemah otomatis membuat emas, yang harganya dikutip dalam dolar, jadi lebih terjangkau bagi investor dengan mata uang lain. Sementara itu, minyak yang meluncur mengurangi kekhawatiran inflasi jangka pendek, setelah sebelumnya banyak orang ramai-ramai beralih ke kas di awal konflik karena khawatir pasokan energi terganggu.
Pada penutupan pasar, emas spot berada di level USD 4.841,76 per troy ons. Kenaikan ini tak sendirian. Logam mulia lainnya juga ikut meroket. Perak melesat 5,2 persen ke USD 79,48 per ons. Platinum dan paladium pun tak ketinggalan, masing-masing menguat 1,3 persen dan 0,7 persen.
Jadi, pasar emas pekan ini seperti diimbangi antara harapan damai dan kekhawatiran inflasi. Semuanya kini tergantung pada kata-kata dari para diplomat.
Artikel Terkait
Adaro Lepas Tambang Kestrel, Saham Melonjak dan Dividen Spesial Dijanjikan
IHSG Dibuka Menguat ke 7.750, Didukung Kenaikan Merata Seluruh Sektor
IHSG Melonjak 2,34%, Analis Proyeksikan Lanjutan Penguatan ke Level 7.700
RATU Genjot Akuisisi Aset Migas Didukung Respons Positif Pasar Modal