Kondisi ini berpotensi membuat harga energi tetap tinggi. Imbasnya? Laju penurunan inflasi global bisa terhambat, dan ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya jadi menyempit.
Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan The Fed juga berubah. Suasana jadi lebih 'hawkish' karena risiko inflasi dari sektor energi masih mengintai. Yield obligasi AS bisa tetap tinggi, dan ini jadi tekanan tambahan untuk aset berisiko seperti saham.
Dinamika ini mendorong investor global kembali bersikap 'risk-off' untuk jangka pendek. Mereka mungkin akan berputar ke aset safe haven seperti dolar AS. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, dan arah pasar sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan moneter.
Sementara di dalam negeri, ada dua hal yang perlu dicermati: wacana penyesuaian harga BBM non-subsidi dan upaya stabilisasi Rupiah yang kini ada di kisaran 17.000 per dolar AS.
Penyesuaian BBM, meski untuk menjaga kesehatan fiskal, berisiko memicu tekanan inflasi jangka pendek. Daya beli masyarakat dan margin sektor konsumsi bisa terpengaruh.
Sedangkan pelemahan Rupiah mendorong otoritas menyiapkan berbagai langkah, mulai dari intervensi di pasar valas hingga optimalisasi instrumen moneter, untuk menjaga stabilitas.
Dengan semua faktor ini, pergerakan IHSG pekan ini diperkirakan cenderung mixed dan konsolidatif. Posisi indeks yang sudah rally tinggi mulai menunjukkan indikasi reversal jangka pendek.
Dari sektor, energi masih mungkin jadi motor penggerak, didukung harga komoditas yang kuat. Sektor transportasi laut juga menunjukkan prospek baik. Selain itu, saham-saham konglomerasi yang mulai berbalik arah secara teknikal bisa membuka peluang trading jangka pendek.
Dalam kondisi seperti ini, saran Hari adalah tetap selektif. Gunakan pendekatan trading-oriented, manfaatkan momentum di sektor kuat, tapi jangan lupa disiplin mengelola risiko. Volatilitas masih tinggi dan sentimen bisa berubah dengan cepat.
Artikel Terkait
MCOL Dirikan Anak Usaha Rp18,75 Miliar untuk Garap Bisnis Data dan TI
Pemerintah Hapus 11.014 Nama dari Daftar Penerima Bansos Mulai April 2026
IHSG Menguat Tipis 0,46% di Sesi Pagi, Volume Transaksi Tembus Rp10 Triliun
Autopedia Rencanakan Buyback Saham Senilai Rp20 Miliar untuk Program MESOP