Lalu, strategi utama apa yang dijalankan tahun ini? Fokusnya adalah meningkatkan kapasitas produksi, terutama untuk segmen kemasan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Menurut Arif, sektor ini sudah berubah jadi kebutuhan pokok yang sangat stabil.
"Sekarang ini kan jarang banget masyarakat yang merebus air. Hampir semuanya pakai air kemasan. Nah, di situlah kami fokus, untuk memperbesar kapasitas produksi di segmen AMDK," jelasnya.
Optimisme mereka sepertinya punya dasar. Pada tahun buku 2025, ASPR mencatatkan kinerja yang cukup ciamik. Laba bersihnya melonjak 66,5 persen year-on-year, mencapai Rp9 miliar.
Yang menarik, pencapaian itu terjadi justru di saat harga bahan baku plastik merangkak naik. Pendorong utamanya adalah kenaikan laba kotor sebesar 24,2 persen menjadi Rp61 miliar. Jadi, meski biaya bahan baku meningkat, perusahaan tetap bisa menjaga marjin dan menghasilkan pertumbuhan yang impresif.
Artikel Terkait
OJK Ingatkan Galbay dari Pinjol Rusak Masa Depan Keuangan
OASA dan BIPI Kolaborasi Garap Proyek Waste to Energy Rp2,6 Triliun di Tangsel
ELPI Cairkan Dividen Rp126 Miliar, Naik Signifikan dari Tahun Lalu
MNC Digital Entertainment Perkuat Dewan Komisaris Jelang IPO Luar Negeri