Laba perusahaan ternyata tidak cuma mengandalkan bisnis inti. Hasil investasi memberikan sokongan yang signifikan, senilai Rp717,36 miliar. Ini menunjukkan strategi pengelolaan aset mereka yang cukup lihai membaca pasar. Belum lagi, ada tambahan dari pendapatan usaha lain sebesar Rp542,52 miliar yang disumbang anak-anak usaha dalam grup.
Yang menarik, performa laba yang bagus ini diiringi dengan kondisi neraca yang juga sehat. Total aset mereka membengkak jadi Rp27,71 triliun, sementara ekuitas mencapai Rp10,17 triliun. Yang paling mencolok adalah rasio Risk Based Capital (RBC) yang bertengger di level 410,9% angka yang jauh di atas batas aman regulasi yang cuma 120%.
Soal perubahan standar akuntansi tadi, pihak manajemen punya pandangan sendiri. Fitri Azwar, Direktur Keuangan & Layanan Korporat Tugu Insurance, justru melihat sisi positifnya.
"Implementasi PSAK 117 merupakan penyesuaian terhadap standar pelaporan yang berlaku. Perseroan terus memastikan bahwa kinerja yang dicapai didukung oleh fundamental yang sehat, pengelolaan risiko yang terukur, serta struktur permodalan yang tetap kuat," tegas Fitri.
Singkatnya, di balik angka-angka yang terdengar teknis itu, Tugu Insurance sepertinya berhasil melewati tahun 2025 dengan fondasi yang makin kokoh. Mereka tak cuma tumbuh, tapi juga menjaga keseimbangan dan kepatuhan sebuah kombinasi yang tidak mudah di industri yang penuh dinamika.
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar