Harapannya jelas: likuiditas pasar jadi lebih sehat dan proses penemuan harga (price discovery) meningkat. Pada akhirnya, ini semua demi menjaga kepercayaan investor dan mendongkrak kredibilitas pasar modal Indonesia di mata dunia.
Nah, untuk memastikan aturan baru ini berjalan mulus, BEI sudah menyiapkan serangkaian sosialisasi. Roadshow, pendampingan, sampai penyediaan hot desk disiapkan untuk membantu perusahaan tercatat. Mereka juga memberi masa transisi agar emiten punya waktu menyesuaikan diri.
Sementara itu, perubahan juga terjadi pada Surat Keputusan Direksi tentang Laporan Bulanan Kegiatan Registrasi Kepemilikan Saham (SK LBRE). Perubahan yang efektif 1 Mei nanti ini mewajibkan pengungkapan informasi lebih detail. Mulai dari kepemilikan di atas 5 persen, afiliasi pengendali, sampai kepemilikan direksi dan komisaris harus dilaporkan.
Uniknya, untuk data Pemilik Manfaat di atas 10 persen, informasinya tidak dipublikasi secara terbuka. Data itu hanya bisa diakses oleh pihak berkepentingan yang mengajukan permintaan resmi ke Bursa. Sedangkan untuk kepemilikan di atas 5 persen, semua informasi dipublikasi kecuali Single Investor Identification (SID) yang dianggap rahasia.
Soal High Shareholding Concentration (HSC), Indonesia mengadopsi praktik yang sudah jalan di Hong Kong. Intinya, BEI akan mengumumkan ke publik jika kepemilikan saham suatu perusahaan terpusat di segelintir investor. Informasi HSC ini nantinya bisa diakses di situs BEI.
Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat, menegaskan langkah ini untuk transparansi dan perlindungan investor.
"KSEI melakukan distribusi informasi kepemilikan saham berdasarkan klasifikasi dan tipe investor yang informasinya dapat diakses melalui website BEI pada halaman pengumuman," papar Samsul.
Dengan 39 klasifikasi investor yang baru, pasar modal Indonesia kini setara dengan bursa global lainnya dalam hal transparansi data. Semua ini, pada akhirnya, adalah upaya besar-besaran untuk membangun kepercayaan. Dan tentu saja, menarik lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya di sini.
Artikel Terkait
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168
WOM Finance Bagikan Dividen Rp46 Miliar, Cair Awal Mei 2026
ADRO Tingkatkan Anggaran Buyback Saham Jadi Rp 5 Triliun
WIKA Catat Kerugian Rp9,75 Triliun di 2025 Meski Raih Kontrak Baru Rp17,46 Triliun