Di sisi lain, tekanan juga datang dari pernyataan keras Presiden AS Donald Trump. Dia memperingatkan Amerika Serikat akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Ancaman itu jelas menambah ketegangan yang sudah ada.
Lalu, bagaimana dengan kondisi dalam negeri? Secara terpisah, para ekonom sebenarnya masih optimis. Mereka memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 bisa mencapai 5,1 sampai 5,2 persen. Andalannya ya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang biasanya solid.
Tapi, Ibrahim mengingatkan, ada hambatan serius. "Namun terdapat hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB)/investasi dan net-ekspor, penyebabnya memburuknya kondisi global pada Maret 2026 akibat perang di Timur Tengah yang menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar," katanya.
Memang, konsumsi dalam negeri masih jadi penyangga utama. Kontribusinya sekitar 53-54 persen terhadap PDB. Jadi saat dunia goncang, permintaan domestik inilah yang bisa menahan laju perlambatan ekonomi.
Ada sinyal menarik dari survei Bank Indonesia. Porsi pendapatan rumah tangga yang dipakai untuk konsumsi ternyata turun jadi 71,6 persen. Sebaliknya, porsi untuk menabung naik ke 17,7 persen. Angka ini menunjukkan satu hal: masyarakat masih belanja, tapi sikapnya mulai lebih berhati-hati. Ada nuansa kehati-hatian yang terasa.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tadi, Ibrahim pun membuat prediksi. Dia memperkirakan pergerakan rupiah ke depan akan fluktuatif, bergerak dalam rentang yang cukup ketat antara Rp17.040 hingga Rp17.070 per dolar AS. Pasar masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari konflik geopolitik yang, sejauh ini, belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Artikel Terkait
Semen Baturaja Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba Bersih di 2025
Pemerintah Tetapkan WFH Setiap Jumat untuk ASN, Potensi Hemat Anggaran Rp6,2 Triliun
IHSG Turun 0,61%, Saham WEHA dan POOL Melonjak di Atas 34%
IHSG Turun 0,61% ke 7.048,22 Didorong Aksi Ambil Untung di Sektor Energi