Analis: Ketegangan Selat Hormuz Beri Tekanan Fiskal, Tapi Tak Fatal bagi Indonesia

- Selasa, 31 Maret 2026 | 21:20 WIB
Analis: Ketegangan Selat Hormuz Beri Tekanan Fiskal, Tapi Tak Fatal bagi Indonesia

Ketegangan di Selat Hormuz: Ancaman Global, Tapi Bukan Akhir Cerita bagi Indonesia

Jakarta - Isu panas di Selat Hormuz kembali mencuat, dan wajar jika banyak yang khawatir. Selat sempit itu bukan jalur biasa; ia adalah urat nadi perdagangan minyak dunia. Gangguan di sana berpotensi menggoyang stabilitas energi global, dan Indonesia tentu ikut merasakan getahnya. Namun, benarkah kita akan menghadapi krisis serius? Tampaknya tidak.

Pengamat politik Boni Hargens mengakui, kekhawatiran itu punya dasar yang kuat. Sekitar 20 persen perdagangan dunia, terutama minyak, mengalir melalui selat itu. Gangguan sekecil apapun pasti akan berimbas, terutama ke kawasan Asia dan Eropa.

“Selat Hormuz sekitar 20 persen perdagangan dunia lewat selat itu, Asia dan Eropa terdampak otomatis,” ujar Boni dalam sebuah program diskusi di iNews, Selasa lalu.

Efek domino yang paling langsung terasa adalah pada harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga, menurut Boni, akan langsung memberi tekanan pada APBN kita. Ini bukan sekadar teori.

“Kenaikan harga setiap 1 dolar itu memberikan tekanan fiskal sekitar Rp10,3 triliun... jadi sekitar Rp7 triliun kita harus nombok,” jelasnya.

Namun begitu, Boni menilai narasi yang menyebut Indonesia bakal kolaps terdampak hal ini terkesan berlebihan. Di tengah publik, memang ada dua opini yang saling tarik ulur.

“Ada dua opini yang sedang berkembang, satu yang pesimis mengatakan bahwa Indonesia akan terdampak krisis, yang optimis termasuk saya mengatakan bahwa kita terdampak tapi tidak akan fatal,” ucapnya.

Lalu, di mana letak optimisme itu? Kuncinya ada pada langkah diversifikasi yang sudah diambil pemerintah. Indonesia tidak lagi menggantungkan pasokan minyaknya hanya pada satu kawasan. Timur Tengah penting, tapi bukan satu-satunya.

“Kita impor dari Afrika Barat, kita bisa impor juga dari Rusia dan AS, artinya bahwa tanpa Selat Hormuz ke depan pun kita tidak akan bermasalah,” tegas Boni.

Di sisi lain, komunikasi diplomatik dengan negara-negara pemasok alternatif ini juga diklaim berjalan lancar. Baik dengan raksasa energi seperti Rusia dan Amerika Serikat, maupun dengan tetangga dekat seperti Brunei dan Malaysia. Jaringan pasokan yang lebih luas ini memberikan ruang gerak.

Jadi, meski badai ketegangan mungkin mengamuk di Teluk Persia, Indonesia punya lebih banyak pilihan sekarang. Tekanan pasti ada, tapi ruang untuk bertahan dan menjaga ketahanan energi nasional masih terbuka lebar. Situasinya perlu diwaspadai, tapi bukan untuk dikhawatirkan secara berlebihan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar