Antrean 5,8 Kilometer di Pelabuhan Ketapang, ASDP Klaim Layanan Masih Terkendali

- Selasa, 31 Maret 2026 | 00:15 WIB
Antrean 5,8 Kilometer di Pelabuhan Ketapang, ASDP Klaim Layanan Masih Terkendali

Antrean kendaraan di pelabuhan Ketapang, Bali, sempat memanjang hingga 5,8 kilometer pada puncak arus balik Lebaran kemarin. Suasana memang padat, tapi arus lalu lintasnya sendiri masih terus bergerak. Menurut pihak ASDP, situasi ini masih terkendali berkat sejumlah langkah percepatan layanan yang mereka terapkan.

Yossianis Marciano, Wakil Direktur Utama PT ASDP, menekankan bahwa mengatasi kepadatan ini bukan cuma soal menambah jumlah kapal. Yang justru lebih krusial adalah kecepatan layanan di setiap titik.

"Fokus kami adalah menjaga agar proses tetap berjalan cepat dan berkesinambungan. Antrean boleh terjadi, tetapi tidak boleh berhenti,"

ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (30/3/2026).

Strategi utama mereka adalah pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB). Intinya, kapal tidak boleh menganggur lama di dermaga. Begitu sandar, kendaraan langsung dibongkar dan muatan baru segera dimuat untuk berangkat lagi. Pola ini, klaim ASDP, berhasil memangkas durasi bongkar muat rata-rata jadi hanya sekitar 35 menit per siklus. Hasilnya, frekuensi kapal bolak-balik pun bisa ditingkatkan.

Pada Senin siang pukul 14.00 WIB, antrean yang didominasi mobil pribadi, sepeda motor, dan truk itu terpantau masih bergerak perlahan menuju pelabuhan. Untuk mengurai kepadatan, ASDP mengerahkan total 34 kapal. Dua puluh dua di antaranya menjalani pola TBB, sementara sisanya adalah kapal tambahan untuk mempercepat rotasi.

Dari sisi angka, permintaannya memang luar biasa. Sistem reservasi Ferizy mencatat 164.881 unit kendaraan telah memesan tiket untuk periode H-10 hingga H 10 Lebaran. Hingga H 7, baru 154.313 unit yang masuk ke Pelabuhan Ketapang. Artinya, masih ada sekitar 10.568 kendaraan lagi yang diperkirakan akan tiba.

Menurut Arief Eko, General Manager ASDP Cabang Ketapang, pengaturan arus tidak cuma fokus di pelabuhan. Mereka sudah mengantisipasi sejak kendaraan masih di jalur pendekat.

“Kami mengatur ritme kedatangan kendaraan agar tidak menumpuk di pelabuhan. Dengan buffer zone, distribusi kendaraan menjadi lebih terukur,”

kata dia.

Beberapa lokasi seperti Grand Watudodol, Terminal Sri Tanjung, Bulusan, dan PT Pusri difungsikan sebagai kantong parkir sementara sekaligus titik pengendalian.

Puncak arus balik sendiri terjadi pada Minggu (29/3) atau H 7. Saat itu, tercatat 56.365 penumpang dan 19.057 unit kendaraan menyeberang dari Jawa ke Bali. Sepeda motor mendominasi dengan 12.458 unit, disusul mobil pribadi sebanyak 4.995 unit.

Di lapangan, koordinasi dengan kepolisian, Dishub, dan pemangku kepentingan lain terus diperkuat. Masyarakat pun diimbau untuk membeli tiket lebih awal via Ferizy, merencanakan perjalanan dengan matang, dan tentu saja, menjaga kondisi fisik selama di perjalanan.

Dengan semua upaya itu, ASDP cukup optimistis arus balik tahun ini bisa dikelola dengan baik. Meski antrean panjang terlihat, yang penting roda terus berputar dan kendaraan tetap bergerak sampai tujuan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar