Jeritan di Tanjung Priok: Sebuah Keluarga Tergeletak, Tetangga Masih Terdiam Kaget

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 20:40 WIB
Jeritan di Tanjung Priok: Sebuah Keluarga Tergeletak, Tetangga Masih Terdiam Kaget

Suasana di sebuah rumah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, mendadak ricuh Jumat pagi lalu. Jeritan histeris memecah kesunyian. Seorang tetangga, Aryuni Wulan Febri (51), awalnya mengira itu cuma pertengkaran biasa. Ternyata, teriakan itu adalah jeritan kepanikan anak kedua korban, Khadafi, yang baru pulang kerja dan menemukan pemandangan mengerikan di dalam rumah.

"Iya, teriak histeris, teriak-teriak gitu, makanya saya pikir kan berantem," kenang Wulan saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/1).

Begitu keluar rumah, dia disambut Khadafi yang panik. Wulan mencoba menggambarkan mencekamnya saat itu.

"(Teriak) 'Ibu, ibu' gitu, pokoknya teriak-teriak. Terus pas saya keluar, saya tanya, 'Kenapa?'. 'Ibu saya keracunan tolong, ibu tolong, tolong' gitu. 'Kenapa sih?' ibu masuk dulu lihat, gitu kan. Begitu saya lihat udah posisi tergeletak semua, jadi kan saya takut," ujarnya.

Di dalam rumah, tiga anggota keluarga telah jadi korban. Mereka adalah sang ibu, Siti Solihah (50), bersama anak pertamanya Afiah Al Adilah Jamaludin (28), dan anak keempat, Adnan Al Abrar Jamaludin yang masih 14 tahun. Sebuah tragedi yang menyisakan duka mendalam.

Anak ketiga, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), masih beruntung. Ia ditemukan selamat dan kini masih berjuang di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit.

Menurut Wulan, hubungannya dengan keluarga korban tidak terlalu akrab. Pertemuan hanya sekadarnya. Afiah dan Syauqi sehari-hari berjualan es minuman.

"(Korban ibu) kebanyakan di dalam. Kalau keluar tuh kalau lagi perlu apa gitu, misalnya lagi mau kontrol, check up, itu keluar diboncengin anaknya. Sekadar, pokoknya pas ngobrolnya pas bertatap muka aja," ceritanya.

Yang membuatnya semakin terkejut, Wulan mengaku tak pernah sekalipun mendengar suara keributan atau pertengkaran dari rumah sebelah itu. Peristiwa ini datang begitu tiba-tiba, meninggalkan tanda tanya besar.

"Kaget banget," ucapnya lirih. "Begitu lihat itu sampai saya nggak doyan makan. Kebayang gitu kok bisa. Sampai biasanya suka berpapasan, nggak nyangka. Nggak nyangka. Suka, ibu ke mana apa gitu. Begitu lihat kondisi begitu udah kaget banget saya. Kaget banget kok bisa gitu, kenapa, selama ini saya nggak pernah denger ribut-ribut juga."

Kini, rumah itu telah sepi. Hanya kenangan dan sejuta pertanyaan yang tertinggal, menunggu proses hukum mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu itu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar