Bank Mandiri Catat Kredit Tumbuh 15,62% dan Laba Naik 16% di Awal 2026

- Rabu, 25 Februari 2026 | 10:35 WIB
Bank Mandiri Catat Kredit Tumbuh 15,62% dan Laba Naik 16% di Awal 2026

Bank Mandiri membuka tahun 2026 dengan langkah yang mantap. Laporan keuangan mereka untuk Januari menunjukkan kredit yang disalurkan melonjak 15,62 persen dibanding tahun lalu, mencapai angka Rp1.511,4 triliun. Ini bukan sekadar angka di atas kertas, tapi sinyal kuat bahwa roda bisnis mereka terus berputar kencang.

Ekspansi kredit itu, tentu saja, mendorong aset bank ikut membesar. Total aset kini menyentuh Rp2.191,9 triliun, naik hampir 14 persen year-on-year. Yang menarik, pertumbuhan ini ternyata tidak mengorbankan kualitas. Sepertinya, fungsi intermediasi bank menyalurkan dana dari masyarakat ke sektor produktif benar-benar bekerja dengan baik di awal tahun.

Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, melihat momentum ini sebagai bukti komitmen. Fokusnya, kata dia, adalah pada sektor-sektor yang benar-benar menopang perekonomian, terutama UMKM dan pelaku usaha di daerah.

“Pertumbuhan ini menjadi wujud sinergi yang terintegrasi antara strategi bisnis, pengelolaan risiko, dan penguatan ekosistem. Kami memastikan akselerasi yang bertumbuh tetap berjalan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga memberikan nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan,” jelas Novita dalam pernyataan resminya, Senin (23/2/2026).

Di sisi lain, kekuatan mereka juga terlihat dari sisi pendanaan. Dana Pihak Ketiga (DPK) melesat 17,29 persen YoY menjadi Rp1.635,5 triliun. Yang patut dicatat, sebagian besar adalah dana murah alias CASA, dengan rasionya bertengger di level 73 persen. Ini kabar bagus karena biaya dananya jadi lebih efisien, sekaligus likuiditas bank punya pondasi yang kuat.

Lalu, bagaimana dengan labanya? Ternyata juga ikut naik. Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp4,65 triliun hanya untuk bulan Januari saja, tumbuh lebih dari 16 persen. Pendorong utamanya datang dari pendapatan bunga bersih yang naik 10,2 persen, dibarengi dengan penurunan biaya dana. Cost of Fund (CoF) mereka turun 27 basis poin dari bulan sebelumnya, dan sekarang berada di posisi 2,06 persen.

Tak ketinggalan, pendapatan dari komisi juga menunjukkan tren positif. Fee Based Income (FBI) yang bersifat rutin tumbuh 16,1 persen. Hal ini membuat struktur pendapatan bank terlihat lebih berimbang, tidak bergantung pada satu sumber saja. Efisiensi pun tampak membaik, terlihat dari rasio Cost to Income (CIR) yang turun jadi 37,75 persen.

Di balik semua angka tadi, ada cerita lain yang mungkin justru lebih krusial: transformasi digital. Transaksi melalui Livin’ by Mandiri melonjak hampir 50 persen! Kopra by Mandiri untuk segmen bisnis juga naik 27 persen, sementara transaksi treasury ikut meroket 33 persen. Angka-angka ini jelas bukan kebetulan.

Novita kemudian menjelaskan lebih jauh soal strategi digital ini. Menurutnya, penguatan ekosistem digital melalui Livin’ untuk ritel, Kopra untuk pebisnis, dan Livin’ Merchant untuk UMKM adalah cara mereka menciptakan keunggulan jangka panjang dan memperluas inklusi keuangan.

“Akselerasi ekosistem digital kami arahkan untuk menghadirkan layanan yang menyeluruh dan terintegrasi bagi masyarakat dan nasabah. Melalui konektivitas yang semakin kuat antarsegmen, kami ingin memastikan setiap kebutuhan transaksi dan pembiayaan dapat terpenuhi secara lebih mudah, cepat, dan relevan,” imbuhnya.

Sementara itu, dari sisi risiko, kinerjanya juga cukup menggembirakan. Cost of Credit (CoC) turun 21 basis poin menjadi 0,35 persen. Rasio kredit bermasalah atau NPL tetap stabil di level yang rendah, yakni 0,97 persen. Ini menunjukkan bahwa ekspansi kredit yang dilakukan tidak sembarangan, tapi disertai dengan disiplin manajemen risiko yang ketat.

Sebagai bagian penting dari ekosistem BUMN keuangan dan mitra pemerintah, Bank Mandiri mengaku akan terus memfokuskan pembiayaan pada sektor-sektor prioritas. Tujuannya jelas: mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan memberdayakan UMKM secara nyata.

Menutup pembicaraan, Novita menyampaikan optimisme untuk sisa tahun 2026. Fundamental yang solid dan strategi yang adaptif, menurutnya, adalah kunci untuk menjaga momentum.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung agenda pembangunan nasional. Dengan fundamental yang solid, efisiensi yang terjaga, serta strategi yang adaptif, kami optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan sepanjang 2026,” pungkas Novita.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar