Dari Iseng Saat Pandemi, Kopi Toejoean Raup Omzet Puluhan Juta Berkat Binaan BRI

- Senin, 08 Juni 2026 | 08:25 WIB
Dari Iseng Saat Pandemi, Kopi Toejoean Raup Omzet Puluhan Juta Berkat Binaan BRI

Iseng. Kata itu yang pertama kali diucapkan Misye, pemilik Kopi Toejoean, saat menceritakan awal mula usahanya yang kini mampu meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulan. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan merek Kopi Toejoean ini berkembang dan pernah menempati spot kafe di lingkungan Rumah BUMN BRI Jakarta.

Pada Sabtu, 6 Juni 2026, Misye terlihat sibuk melayani pengunjung di stan bazar yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Di sela kesibukannya, ia menceritakan secara rinci perjuangannya merintis usaha kopi dari skala rumahan yang dimulai pada Mei 2022.

“Mei 2022 itu saat pandemi berdirinya Kopi Toejoean. Karena saat pandemi enggak bisa aktivitas. Padahal, latar belakang saya sebelumnya itu lagi usaha pendidikan, buka kursus baca tulis, bahasa Inggris,” kata Misye.

Pandemi COVID-19 saat itu sangat membatasi pergerakan masyarakat. Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home diterapkan oleh berbagai kantor swasta hingga instansi pemerintah. Akibatnya, usaha kursus yang dirintis Misye pun terhenti.

Dari titik itulah Misye mulai menekuni hal yang ia sukai, yakni kopi. Ia menggali berbagai pengetahuan tentang kopi, hingga akhirnya belajar menjadi barista melalui sejumlah pelatihan, baik yang gratis maupun berbayar.

“Yang tadinya saya enggak tahu barista itu kerjanya apa, jadi tahu banyak tentang kopi. Ternyata kopi itu ada robusta, ada arabika, dan lain-lain,” ujarnya.

Selama mengikuti pelatihan, Misye aktif membangun jejaring. Dari perbincangan dengan teman-teman satu komunitas, ia mendapat dorongan untuk membuka usaha kopi. Singkat cerita, usaha itu pun berdiri, meskipun tantangan masih harus dihadapi di tengah pandemi.

Awalnya, produk Kopi Toejoean dipasarkan melalui WhatsApp dan media sosial. Setiap produk yang dibuat akan dipajang di akun media sosial dan dikirimkan kepada teman-temannya. Dari situlah pintu rezeki mulai terbuka.

“Iseng, kok, kenapa nggak usaha kopi aja gitu. Emang dasarnya pengin tahunya terlalu tinggi kali ya,” katanya.

“Akhirnya teman-teman pada pesan. Saya juga nggak tahu, dulunya saya nggak berani pakai cup. Saya pakai botol justru awalnya yang 250 ml. Tapi intinya, saya memulainya dari situ, lewat teman-teman,” tutur Misye.

Usaha ini ia pelajari secara otodidak dari awal. Perlahan namun pasti, dengan tekad pantang menyerah, Misye menjalankan usahanya hingga kini masih berjalan.

“Sampai detik hari ini dan menghasilkan, sampai bisa menjadi salah satu binaan Rumah BUMN,” ucapnya.

Kopi Toejoean tercatat sebagai binaan Rumah BUMN Jakarta yang dikelola oleh BRI sejak tahun 2024. Rumah BUMN BRI merupakan wadah bagi pelaku UMKM untuk tumbuh dan naik kelas dengan menyediakan pelatihan, inkubasi, serta akses permodalan dan pasar bagi para anggotanya.

Dari Rumah BUMN BRI yang berlokasi di Jalan Letjen S. Parman, Kemanggisan, Jakarta Barat, Misye memperoleh banyak ilmu. Salah satu yang paling berdampak adalah digitalisasi, yang sangat membantu perkembangan usahanya.

“Saya di situ dikasih banyak ilmu, dalam arti dikasih kesempatan untuk belajar digital. Semuanya serba digital, yang tadinya saya enggak ngerti sama sekali. Saya kan bukan orang dengan latar belakang IT, sementara saya bersaing dengan para gen-Z, usaha anak muda yang harus bisa bermedia sosial,” tutur Misye.

“Kita diajarin cara bikin AI, desain, bikin desain cover. Kita juga diajak kunjungan yang urusannya dengan packaging, bagaimana membuat kemasan, fotografi, hingga laporan keuangan. Pokoknya semuanya sudah serba digital,” bebernya.

Di Rumah BUMN, Misye juga mendapat kesempatan untuk menjual produknya. Di lokasi tersebut tersedia spot kecil ala kafe yang diperuntukkan bagi UMKM binaan.

“Ada pelatihan-pelatihan khusus untuk inkubator. Jadi ada kelas khusus inkubator, yaitu UMKM pilihan yang sudah lolos kurasi di bidang masing-masing dan diberi fasilitas. Terus juga dikasih kesempatan sama Rumah BUMN untuk mengisi kafe itu selama satu tahun di situ,” jelas Misye.

Dari pengalaman itu, ia merasa usahanya semakin dikenal masyarakat. Sejumlah perusahaan, menurut Misye, masih kerap memesan produk Kopi Toejoean.

“Itu juga memberi saya kesempatan untuk lebih lagi. Orang jadi tahu ada Kopi Toejoean. Mungkin kalau sehari-hari kelihatannya enggak terlalu ramai, tapi mereka justru pesan dari perusahaan-perusahaan itu sampai hari ini,” katanya.

Saat ini, Kopi Toejoean mencatat omzet antara Rp20 juta hingga Rp25 juta setiap bulan. Usaha ini dijalankan dari rumah produksi di kawasan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, dan melayani pembelian secara take away.

“Di rumah. Tetap ada tempat produksi dan untuk kopi to-go. Jadi tidak dine in, lebih ke kopi to-go. Datang, beli, diambil,” kata Misye.

“Kalau rata-rata sih 20-an, antara 20 sampai 25 (juta rupiah per bulan),” sebutnya.

Dalam menjalankan usahanya, Misye dibantu oleh satu orang barista dan satu orang admin sebagai karyawan, meskipun ia sendiri juga bisa merangkap sebagai barista. Di luar itu, Misye juga memberikan kesempatan kepada siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk bergabung sebagai tim kreatif.

Para remaja tersebut datang setiap hari Sabtu ke rumahnya dan sudah berlangsung hampir satu bulan. Mereka juga terlihat mendampingi Misye di lokasi bazar yang tengah diikuti Kopi Toejoean. Menurut Misye, suatu usaha bisa maju jika memiliki tim yang kreatif.

“Kebetulan ada tujuh anak SMK, jadi mereka kayak semacam PKL, tapi saya bawa sebagai tim kreatif. Saya punya ide bahwa kalau mau maju, enggak bisa sendiri. Maju itu harus punya tim. Kebetulan ada anak-anak PKL. Jadi ada yang pegang medsos IG, TikTok, sama ada yang urus website. Mereka ke rumah setiap hari Sabtu karena saya enggak mau mengganggu sekolah mereka. Sudah hampir sebulan ini,” ungkap Misye.

Harapan besar terus dipegang Misye dalam menjalankan UMKM kopi ini. Ia ingin usahanya semakin maju dan mampu melahirkan barista-barista berbakat untuk kemajuan bisnis kopi.

“Intinya saya mau memberikan efek kepada lingkungan atau generasi-generasi gen-Z yang ada sekarang. Saya buktikan, saya mau ngobrol sama anak SMK. Pengennya sih menularkan barista-barista baru,” kata Misye.

Kopi Toejoean memiliki sejumlah menu khas, seperti kopi gula aren, kopi susu, dan americano. Untuk menu nonkopi, tersedia choco latte, green tea latte, dan jeruk peras. Dalam salah satu ajang bazar, produknya pernah dipesan oleh perusahaan dalam jumlah ratusan cup.

“Ya 2024, karena saya kan sering bazar, tiba-tiba ada yang pesan untuk kantor. Ada yang pesan untuk acara ulang tahun. Terus saya dikasih kesempatan bazar besar. Ada perusahaan yang pesan 600 cup, 700 cup untuk acara mereka,” sebut Misye.

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, dalam kesempatan wawancara menyatakan bahwa Rumah BUMN BRI di Jakarta fokus mendorong digitalisasi agar UMKM lebih dikenal masyarakat. Digitalisasi ini diharapkan mampu memperluas pasar UMKM, bahkan hingga ke tingkat ekspor.

“Jadi kita mendorong ke digitalisasinya,” katanya.

Saat ini, BRI mengelola 54 Rumah BUMN sebagai wadah kolaborasi dalam pembentukan ekosistem ekonomi digital UMKM untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas usaha. Rumah BUMN ingin UMKM tumbuh dan bertransformasi menuju ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan.

“Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar,” ujar Jajang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar