Harga saham Nvidia sedang terombang-ambing. Kini, saham raksasa chip itu diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (PE) yang paling rendah sejak tahun 2019 jauh sebelum demam AI melanda pasar. Ini bukan sekadar angka biasa. Rasio PE yang merosot itu menandai pergeseran sentimen yang cukup signifikan di tengah ketegangan geopolitik dan keraguan terhadap masa depan investasi teknologi.
Sejak mencapai puncaknya pada Oktober lalu, saham Nvidia sudah anjlok hampir 20 persen. Tekanan jual yang melanda pasar global rupanya ikut menyeretnya. Pemicunya? Kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran bakal memicu lonjakan harga minyak dan inflasi. Kalau sudah begitu, suku bunga global berpotensi naik lagi. Pada perdagangan Jumat pekan lalu, sahamnya kembali melemah 2,2 persen, dan untuk kuartal pertama tahun ini, penurunannya diperkirakan mencapai sekitar 10 persen.
Namun begitu, masalahnya tak cuma soal geopolitik. Ada kegelisahan lain yang mulai menggerogoti kepercayaan investor. Belanja besar-besaran perusahaan teknologi seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon untuk infrastruktur AI dinilai butuh waktu lama untuk benar-benar menghasilkan peningkatan pendapatan. Apakah investasi segila itu akan terbayarkan? Pertanyaan itu menggantung dan menambah beban psikologis pasar.
Gabungan dari semua tekanan itu telah menghapus lebih dari USD 800 miliar dari kapitalisasi pasar Nvidia. Padahal, perusahaan ini masih menunjukkan kinerja fundamental yang kuat. Margin laba kotornya tetap tinggi, sekitar 75 persen, dan proyeksi pertumbuhan pendapatan pun terus dinaikkan oleh para analis. Tapi pasar seperti tak peduli. Saat ini, saham Nvidia diperdagangkan sekitar 19,6 kali perkiraan laba 12 bulan ke depan. Angka itu jadi level terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Sebagai pembanding, rasio PE gabungan indeks S&P 500 sendiri ada di kisaran 20. Padahal, perusahaan dengan pertumbuhan tinggi seperti Nvidia biasanya dinilai lebih mahal. Menurut data LSEG, laba Nvidia diproyeksikan melonjak lebih dari 70 persen pada tahun fiskal berjalan, sementara perusahaan di S&P 500 rata-rata hanya tumbuh sekitar 19 persen di tahun 2026. Ada kesenjangan yang menarik di sini.
Di sisi lain, tekanan ini tak hanya dirasakan Nvidia. Seluruh sektor teknologi, terutama perangkat lunak, juga tertekan. Ada kekhawatiran bahwa perkembangan AI justru akan memicu persaingan yang lebih ketat dan memangkas margin keuntungan mereka.
Bahkan, teknologi AI masa depan bisa mengganggu perusahaan perangkat keras sekalipun, termasuk Nvidia sendiri. Begitu kata Dennis Dick, seorang trader independen di Triple D Trading.
“Semua teknologi, apa pun itu, termasuk Nvidia, berpotensi mengalami disrupsi, dan itulah faktor risikonya saat ini,” ujarnya.
“Semuanya berjalan di atas chip Nvidia, tetapi itu tidak berarti akan tetap seperti itu dalam dua atau tiga tahun ke depan. Semuanya berubah begitu cepat, dan saya pikir itulah kekhawatiran pasar secara keseluruhan.”
Transformasi Nvidia memang luar biasa. Dari awalnya produsen chip untuk gim, kini jadi pemasok utama chip AI global. Sejak ChatGPT diluncurkan, sahamnya melesat lebih dari 1.000 persen. Tapi sejarah yang gemilang itu tak menjamin masa depan yang mulus.
Lihat saja perusahaan teknologi lain. Rasio PE Microsoft turun jadi sekitar 20 dari sebelumnya 35 pada Agustus tahun lalu. Pesaingnya di bidang AI, Alphabet, juga mengalami hal serupa, rasionya merosot ke 24 dari hampir 30 di Januari.
Meski begitu, tidak semua pihak pesimis. Art Hogan, Kepala Ahli Strategi Pasar di B. Riley Wealth, menyatakan perusahaannya tetap merekomendasikan Nvidia kepada klien.
"Dengan valuasi yang lebih rendah daripada S&P 500, saya pikir ini keputusan yang mudah," kata Hogan.
Jadi, di tengah keributan pasar dan kekhawatiran yang bertubi-tubi, ada yang melihat ini justru sebagai peluang. Nvidia mungkin sedang murah, atau pasar sedang terlalu khawatir. Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Bank bjb Raih Lima Penghargaan Digital Brand di Ajang Infobank-Isentia 2026
Kemenag Jelaskan Hukum Kurban: Sunnah Muakkad bagi Mampu, Wajib Menurut Mazhab Hanafi
Polisi Tangkap Perempuan yang Ambil Ponsel Korban di Bilik Photobox Cempaka Putih, Satu Pelaku Masih Diburu
Prabowo Ungkap Alasan Emosional di Balik Kedekatannya dengan Kebumen, Panen Raya Udang Capai Level Dunia