Rupiah ditutup melemah di pasar Selasa kemarin, tepatnya di level Rp17.041 per dolar AS. Pelemahan sekitar 39 poin atau 0,23 persen itu terjadi di tengah situasi global yang benar-benar memanas.
Menurut pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pemicu utamanya datang dari Timur Tengah. Iran menutup akses Selat Hormuz, jalur laut yang super vital. Bayangkan, sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan banyak kapal gas alam cair biasanya melintas di sana. Penutupan ini langsung bikin pasar energi kalang kabut.
Dampaknya langsung terasa. Harga minyak Brent berjangka melonjak 59 persen sepanjang Maret, rekor kenaikan bulanan yang fantastis. Sementara minyak WTI juga naik 58 persen, level tertinggi sejak pandemi melanda di tahun 2020.
Ibrahim menulis dalam risetnya yang dirilis Selasa, situasinya makin runyam dengan insiden serangan terhadap kapal tanker.
"Menyoroti ancaman terhadap pasukan energi melalui laut dari perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, Kuwait Petroleum Corp mengatakan pada hari Selasa bahwa kapal tanker minyak mentah mereka yang bermuatan penuh, Al Salmi, yang mampu membawa hingga 2 juta barel, dihantam oleh serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai, kata kantor berita negara KUNA pada hari Selasa. Para pejabat juga memperingatkan potensi tumpahan minyak di daerah tersebut," tulisnya.
Belum selesai di sana, ancaman juga muncul dari selatan. Pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran meluncurkan rudal ke arah Israel. Ini bikin khawatir bakal ada gangguan baru di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit penghubung Laut Merah dan Teluk Aden. Padahal, itu rute utama kapal-kapal dari Asia ke Eropa via Terusan Suez.
Artikel Terkait
Semen Baturaja Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba Bersih di 2025
Pemerintah Tetapkan WFH Setiap Jumat untuk ASN, Potensi Hemat Anggaran Rp6,2 Triliun
IHSG Turun 0,61%, Saham WEHA dan POOL Melonjak di Atas 34%
IHSG Turun 0,61% ke 7.048,22 Didorong Aksi Ambil Untung di Sektor Energi