Upaya penanganan pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera terus digenjot. Kali ini, fokusnya adalah mengatasi kayu-kayu hanyutan dan material sisa yang berserakan. Kementerian Kehutanan, bersama TNI, Polri, dan pemerintah daerah, masih bekerja keras membersihkan Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Di Aceh Utara, tepatnya di Kecamatan Langkahan, situasinya cukup pelik. Tumpukan kayu menghalangi jalan, memenuhi halaman rumah, bahkan mengganggu fasilitas sekolah. Untuk mengatasinya, tim gabungan mengerahkan tidak kurang dari 28 unit alat berat. Kerja keras mereka mulai membuahkan hasil.
“Kami memprioritaskan pembersihan kayu yang menghalangi akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum,” jelas Subhan, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).
“Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar bisa dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” tambahnya.
Hingga Senin lalu, sudah 300 batang kayu dengan volume hampir 470 meter kubik yang berhasil didata. Kayu-kayu ini pun langsung dimanfaatkan. Untuk membangun hunian sementara atau huntara, misalnya. Saat ini, satu unit huntara sudah selesai, sementara dua unit lainnya masih dalam pengerjaan.
Sementara itu, di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pembersihan berpusat di beberapa desa seperti Garoga dan Huta Godang. Di sana, 20 alat berat dan 10 dump truck dikerahkan. Mereka tak cuma memilah kayu, tapi juga menormalisasi sungai dan membersihkan rumah warga. Bahkan, beberapa titik pemilahan disebut sudah rampung seratus persen.
Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa pekerjaan ini berjalan beriringan dengan upaya memenuhi kebutuhan tempat tinggal korban.
Artikel Terkait
Sekutu Trump Ancam Bunuh Khamenei di Tengah Gelombang Demo Iran
Suzuki Pastikan Suku Cadang Baleno Tetap Tersedia Meski Sudah Pensiun
Raja Ampat Pasang Tarif Masuk Baru: Rp 1 Juta untuk Turis Asing
Layanan Kesehatan di Wilayah Banjir Sumatera Mulai Bangkit, 87 RS Kembali Beroperasi