Nilai dolar AS terus melaju kencang. Pada Selasa (31/3/2026), mata uang itu sedang menuju kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa bulan terakhir, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai safe haven yang paling dicari. Pemicunya? Konflik di Timur Tengah yang belum reda, yang juga mendongkrak harga minyak mentah.
Semalam, dolar menguat hampir ke semua mata uang utama. Tapi ada pengecualian: yen Jepang. Ancaman intervensi dari otoritas Tokyo membuat para trader berpikir dua kali untuk mendorong yen melemah lebih dalam, terutama di sekitar level 160 per dolar. Mereka tampaknya enggan mengambil risiko.
Kondisi pasar valas terasa suram. Euro anjlok 0,3 persen dan berpotensi mencatat penurunan bulanan sekitar 3 persen. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru pun tak berkutik, terhempas ke level terendah dalam beberapa bulan.
Padahal, dolar Australia sempat cukup tangguh. Namun, dalam beberapa sesi terakhir, mata uang ini tiba-tiba terperosok. Fokus pasar tampaknya bergeser. Kekhawatiran akan inflasi tinggi mulai tergantikan oleh ketakutan akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Akibatnya, dolar Australia sempat menyentuh level terendah dua bulan di USD0,6834, dan pagi ini bertahan di kisaran USD0,6844.
Nasib serupa menimpa dolar Selandia Baru. Pada Senin, mata uang ini ambruk dan nyaris menyentuh level terendah empat bulan, yaitu 57 sen AS. Sementara itu, won Korea Selatan bahkan terpuruk ke posisi terlemah sejak 2009. Situasinya benar-benar berdarah-darah untuk sebagian besar mata uang.
Di tengah gejolak ini, ketegangan geopolitik justru memanas. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.
AS akan menghancurkan fasilitas energi dan sumur minyak Iran jika Teheran menutup Selat Hormuz.
Iran sendiri membalas dengan menyebut proposal perdamaian dari Washington tidak realistis. Belum selesai di situ, laporan dari Kuwait menambah daftar kekhawatiran. Menurut kantor berita KUNA, sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang penuh muatan diserang oleh Iran saat berlabuh di Dubai. Kabar ini langsung mendorong harga minyak melonjak lebih tinggi.
Sementara badai geopolitik berlangsung, dari sisi kebijakan moneter justru ada sinyal yang lebih tenang. Ketua The Fed, Jerome Powell, berusaha meredam spekulasi.
Dia menegaskan kembali pendekatan wait and see bank sentral AS. Ekspektasi inflasi dinilainya masih relatif terjaga, setidaknya untuk jangka pendek.
Pernyataan Powell itu langsung berdampak. Imbal hasil obligasi jangka pendek AS turun, dan harapan pasar untuk kenaikan suku bunga tahun ini pun menguap. Namun anehnya, semua itu tak banyak melemahkan dolar. Kenapa? Rupanya, dalam kondisi ketidakpastian global seperti sekarang, dolar tetap menjadi pelarian favorit. Investor beramai-ramai mencari aset aman, dan dolar AS lah yang kebagian jatah terbesar.
Namun begitu, aset safe haven lain justru tak seberuntung dolar. Obligasi dan emas, misalnya, kinerjanya buruk sejak perang pecah. Franc Swiss juga kehilangan daya tarik. Ancaman bank sentral Swiss untuk membendengi penguatan mata uangnya membuat investor enggan menjadikannya lindung nilai.
Jadi, ceritanya sekarang sederhana: di tengah peperangan dan ketakutan akan resesi, dolar AS masih jadi raja. Yang lain? Terpaksa gigit jari.
Artikel Terkait
RUPSLB PT Jantra Grupo Indonesia Tunjuk Simon Arosokhi Gulo sebagai Direktur Baru
Under-Invoicing Ekspor Rugikan Negara Rp15.400 Triliun dalam 34 Tahun, Danantara Bentuk BUMN Komoditas
Sampoerna Tebar Dividen Rp6,55 Triliun, Laba Bersih Stabil di Tengah Tekanan Industri Rokok
Tekanan Global dan Domestik Meningkat, Investor Disarankan Diversifikasi di Tengah Volatilitas Pasar