Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi, Didorong Ketegangan Timur Tengah

- Selasa, 31 Maret 2026 | 10:25 WIB
Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi, Didorong Ketegangan Timur Tengah

Nilai dolar AS terus melaju kencang. Pada Selasa (31/3/2026), mata uang itu sedang menuju kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa bulan terakhir, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai safe haven yang paling dicari. Pemicunya? Konflik di Timur Tengah yang belum reda, yang juga mendongkrak harga minyak mentah.

Semalam, dolar menguat hampir ke semua mata uang utama. Tapi ada pengecualian: yen Jepang. Ancaman intervensi dari otoritas Tokyo membuat para trader berpikir dua kali untuk mendorong yen melemah lebih dalam, terutama di sekitar level 160 per dolar. Mereka tampaknya enggan mengambil risiko.

Kondisi pasar valas terasa suram. Euro anjlok 0,3 persen dan berpotensi mencatat penurunan bulanan sekitar 3 persen. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru pun tak berkutik, terhempas ke level terendah dalam beberapa bulan.

Padahal, dolar Australia sempat cukup tangguh. Namun, dalam beberapa sesi terakhir, mata uang ini tiba-tiba terperosok. Fokus pasar tampaknya bergeser. Kekhawatiran akan inflasi tinggi mulai tergantikan oleh ketakutan akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Akibatnya, dolar Australia sempat menyentuh level terendah dua bulan di USD0,6834, dan pagi ini bertahan di kisaran USD0,6844.

Nasib serupa menimpa dolar Selandia Baru. Pada Senin, mata uang ini ambruk dan nyaris menyentuh level terendah empat bulan, yaitu 57 sen AS. Sementara itu, won Korea Selatan bahkan terpuruk ke posisi terlemah sejak 2009. Situasinya benar-benar berdarah-darah untuk sebagian besar mata uang.

Di tengah gejolak ini, ketegangan geopolitik justru memanas. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar