Jerome Powell, sang Ketua The Fed, punya pesan yang jelas: mereka tak akan buru-buru. Di tengah gejolak perang Iran yang mendorong harga energi melambung, bank sentral AS itu memilih untuk bersikap tenang. Mereka akan menunggu dan mengamati dulu dampaknya terhadap ekonomi dan inflasi. Guncangan seperti kenaikan harga minyak, menurut Powell, biasanya tak butuh reaksi kebijakan yang instan.
“Kami merasa kebijakan kami sudah berada di posisi yang tepat untuk menunggu dan melihat bagaimana situasinya berkembang,”
ucap Powell saat menjawab pertanyaan di sebuah kelas makroekonomi di Harvard University, Selasa lalu. Pernyataannya itu, seperti dilaporkan Reuters, langsung dirasakan pasar. Suasana yang sebelumnya cemas, mengantisipasi kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi, berangsur mereda. Ekspektasi kenaikan suku bunga itu nyaris hilang sama sekali.
Memasuki pekan kelima konflik, dengan harga bensin di AS menyentuh sekitar 4 dolar per galon, Powell mengakui adanya tekanan. Dua mandat utama The Fed menjaga lapangan kerja penuh dan stabilitas harga seolah saling tarik-menarik dalam situasi ini.
“Ada risiko penurunan di pasar tenaga kerja yang mengarah pada perlunya suku bunga rendah, tetapi juga ada risiko kenaikan inflasi yang justru menyarankan agar suku bunga tidak tetap rendah,”
jelasnya. Namun begitu, untuk saat ini, The Fed belum merasa perlu bertindak. Mereka tetap waspada, mencermati kemungkinan memburuknya ekspektasi inflasi yang bisa memaksa mereka bergerak. “Ekspektasi inflasi tampaknya masih terjaga dengan baik untuk jangka menengah hingga panjang,” tambah Powell, mencoba meyakinkan.
Artikel Terkait
Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi, Didorong Ketegangan Timur Tengah
Harga Emas Antam Turun Rp10.000 per Gram, Buyback Anjlok Lebih Dalam
IHSG Dibuka Menguat ke 7.122,99, Sektor Konsumer dan Keuangan Dorong Pasar
Harga Emas Menguat Dua Hari Berturut-turut, tapi Tertekan Ancaman Inflasi dan Suku Bunga