Pernyataan ini konsisten dengan sikap yang mereka tunjukkan awal bulan ini, di mana suku bunga acuan dipertahankan di kisaran 3,50–3,75 persen. Tapi situasinya memang rumit. Powell mencatat, inflasi sudah bertengger di atas target 2 persen selama hampir lima tahun. Penyebabnya berlapis; mulai dari lonjakan permintaan pasca-pandemi, keterbatasan pasokan global, hingga dampak tarif yang dia sebut sebagai guncangan lebih kecil.
Kini, ada faktor baru: energi.
“Kini kita menghadapi guncangan energi. Tidak ada yang tahu seberapa besar dampaknya. Masih terlalu dini untuk memastikan,”
katanya dengan nada hati-hati. Ketidakpastian itu tercermin di pasar minyak. Pada hari Senin, harganya bergerak tak menentu. Brent sedikit melemah sekitar 0,7 persen ke 111,81 dolar per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) justru naik 2,7 persen ke 102,36 dolar. Keduanya, bagaimanapun, sudah melonjak signifikan sejak konflik pecah akhir Februari lalu.
Jadi, intinya adalah kesabaran. The Fed memegang kendali, tapi matanya tetap terbuka lebar. Mereka tak mau gegabah, memilih untuk membiarkan data dan situasi yang berbicara lebih dulu sebelum mengambil langkah berikutnya.
Artikel Terkait
Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi, Didorong Ketegangan Timur Tengah
Harga Emas Antam Turun Rp10.000 per Gram, Buyback Anjlok Lebih Dalam
IHSG Dibuka Menguat ke 7.122,99, Sektor Konsumer dan Keuangan Dorong Pasar
Harga Emas Menguat Dua Hari Berturut-turut, tapi Tertekan Ancaman Inflasi dan Suku Bunga