Dengan kondisi seperti ini, pasar kini malah memprediksi langkah Federal Reserve (Fed) akan berubah. Alih-alih memotong suku bunga, skenario kenaikan suku bunga justru mengemuka, terutama karena harga energi berpotensi melambung tinggi.
CME FedWatch Tool mengonfirmasi pergeseran sentimen ini. Pasar saat ini memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga sama sekali tahun ini. Bahkan, ada peluang 50 persen suku bunga justru naik di akhir 2026. Padahal, sebelum ketegangan AS-Iran memanas, proyeksi pasar masih mengarah pada dua kali penurunan suku bunga. Perubahan yang cukup signifikan.
Bagaimana dengan sentimen domestik? Rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran patut diapresiasi. Namun begitu, menurut analisis, langkah itu perlu didukung kombinasi kebijakan lain agar benar-benar efektif menjaga defisit APBN. Tekanan fiskal yang terjadi saat ini sifatnya struktural, datang dari beban subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, plus kebutuhan belanja prioritas yang tak bisa ditunda. Jadi, efisiensi anggaran saja tidak cukup; butuh langkah-langkah pendamping yang solid.
Melihat seluruh faktor itu, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.000 hingga Rp17.040 per dolar AS.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Dokumen Internal Sebut Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Bakal Naik Signifikan Awal April
PT DCI Indonesia Catat Laba Bersih Rp1 Triliun pada 2025 Didukung Ekspansi Data Center
Dokumen Rahasia Sebut Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Bakal Naik Signifikan
IHSG Bangkit dari Jurang 7.000, Ditutup Melemah Tipis di 7.091