Dokumen Rahasia Sebut Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Bakal Naik Signifikan

- Senin, 30 Maret 2026 | 19:40 WIB
Dokumen Rahasia Sebut Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Bakal Naik Signifikan

JAKARTA – Kabar soal kenaikan harga BBM Pertamina non-subsidi besok, Selasa 1 April 2026, tiba-tiba membanjiri media sosial. Isunya sih, kenaikannya bakal signifikan. Bikin resah aja.

Nah, beredar juga nih sebuah dokumen berstempel ‘confidential’ yang membeberkan angka-angka rincinya. Kalau data itu benar, Pertamax bakal naik Rp5.550 per liternya. Harganya melesat dari Rp12.300 jadi Rp17.850. Gak tanggung-tanggung.

Produk lain ikut-ikutan. Pertamax Green disebut naik Rp6.250 ke Rp19.150. Sementara Pertamax Turbo juga melonjak Rp6.350, mencapai harga yang sama, Rp19.150 per liter. Untuk jenis solar, Dex dan Dexlite sama-sama mengalami kenaikan fantastis sebesar Rp9.450 per liter.

Lantas, apa penyebabnya? Menurut keterangan dalam dokumen tadi, ini nggak lepas dari dua hal utama: pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS dan kenaikan harga acuan internasional atau HIP. Rupiah disebut melemah tipis ke level Rp16.877 per USD.

Yang lebih dramatis adalah lonjakan HIP Gasoline RON 92 dan HIP Gasoil 250ppm. Angkanya naik puluhan persen, bahkan ada yang hampir menyentuh 91%. Bisa dibayangkan tekanan yang diterima Pertamina.

Dokumen itu juga memberi penjelasan soal latar belakang gejolak ini.

"Skema harga Gasoline dan Gasoil naik sejalan dengan tren HIP dalam upaya mendukung arahan Pemerintah untuk hemat energi akibat situasi perang US-Israel vs Iran yang menyebabkan harga minyak dunia naik ekstrim dan terjadi gangguan pasokan minyak dunia di Selat Hormuz,"

Namun begitu, semua informasi ini masih berupa kabar angin. Sampai detik ini, Pertamina sendiri belum memberikan konfirmasi resmi. Mereka masih bungkam, belum ada jawaban yang keluar dari pihak perusahaan.

Sebenarnya, kenaikan seperti ini sudah diprediksi oleh sejumlah pengamat. Wisnu Wibowo, ekonom dari Universitas Airlangga, sebelumnya sudah mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi adalah konsekuensi yang wajar.

“Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,”

Menurut Wisnu, kenaikannya mungkin tidak akan melampaui 10%. Pemicunya kompleks, mulai dari geopolitik Timur Tengah yang memanas, pergerakan harga acuan MOPS, sampai fluktuasi nilai tukar Rupiah yang memang lagi gamang. Intinya, pasar internasional lagi bergejolak, dan kita ikut merasakan dampaknya di SPBU.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar