Di level bawah, tren negatif masih berlanjut. Laba sebelum pajak menyusut jadi Rp892,6 miliar, jauh dari capaian Rp1,01 triliun setahun sebelumnya. Imbasnya, laba per saham pun merosot dari Rp366 menjadi hanya Rp324 per saham.
Kalau lihat neracanya, total aset LPPF sebenarnya relatif stabil di angka Rp5,13 triliun. Namun, di balik angka yang tampak tenang itu, ada pergeseran yang perlu dicermati. Total ekuitas mereka menipis menjadi Rp272,9 miliar, sementara liabilitas justru membengkak menjadi Rp4,86 triliun.
Beberapa rasio keuangan pun ikut berubah. Margin laba kotor sedikit terkorosi menjadi 65,9%. Return on Assets (ROA) juga turun ke 14,1%. Tapi ada yang menarik: Return on Equity (ROE) justru melonjak tinggi ke 265,8%. Lonjakan ini lebih karena basis ekuitasnya yang menciut, bukan karena kinerja yang fantastis.
Dari kacamata operasional, adjusted EBITDA mereka tercatat Rp1,16 triliun turun dari Rp1,39 triliun. Rasio beban operasional terhadap penjualan kotor pun naik menjadi 26,1%. Angka ini mencerminkan tekanan biaya yang semakin berat, di saat pendapatan justru sedang menurun.
Artikel Terkait
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Tjiwi Kimia Turun 7,2% di 2025 Meski Penjualan Stabil
Laba Bersih Hartadinata Abadi Melonjak 121% Jadi Rp979,6 Miliar pada 2025