Menurut Ibrahim, produksi minyak di kawasan itu bisa menyusut drastis, sampai 10 juta barel per hari. Gak cuma di sana, serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia makin memperparah keadaan, memicu kekhawatiran kelangkaan energi di seluruh dunia.
“Geopolitik di Timur Tengah ini pun juga masih rame. Apalagi tentang pembatasan transportasi di Selat Hormuz. Kemudian tentang penyerangan yang ditunda Perang pun juga masih terus terjadi. Bahkan Timur Tengah sendiri sampai saat ini mengalami pengurangan itu 10 juta barel per hari,”
tuturnya lagi.
Di tengah gejolak ini, ada tren menarik yang dicatat Ibrahim. Bank-bank sentral global ternyata ramai-ramai beli logam mulia buat lindung nilai. Nah, pelemahan rupiah yang kita alami justru dilihat bisa jadi penahan agar harga emas dalam negeri gak koreksi terlalu dalam.
Data pasar pun menunjukkan tren yang gak menggembirakan. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,45 persen ke posisi Rp16.980 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), pelemahannya sekitar 0,32 persen ke level Rp16.957 per dolar AS.
Untuk perdagangan Senin (30/3/2026) nanti, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah akan fluktuatif. Tapi pada akhirnya, dia menduga mata uang kita akan ditutup melemah, mungkin di kisaran Rp16.980 sampai Rp17.030 per dolar AS. Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Tjiwi Kimia Turun 7,2% di 2025 Meski Penjualan Stabil