Pekan ini, rupiah diprediksi bakal menghadapi tekanan berat. Bahkan, ada risiko nilai tukarnya anjlok ke level Rp17.100 per dolar AS. Pemicunya? Isu krisis energi global yang makin panas dan bikin pasar was-was.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, melihat mata uang kita berpotensi menyentuh level psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan. Semua ini tak lepas dari penguatan indeks dolar yang terus menggila.
“Itu (rupiah) kemungkinan besar akan menuju level Rp17.100 per USD. Ingat Rp17.100 per USD,”
ujar Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (29/3/2026).
Dia juga memproyeksikan indeks dolar akan bergerak kuat, nangkring di rentang 99,300 hingga 101,600. Kalau ini terjadi, ya sudah, mata uang negara berkembang termasuk Indonesia pasti ketiban getahnya dan melemah.
Lalu, apa sih yang bikin dolar menguat dan rupiah tertekan? Sorotan utama ada pada situasi di Timur Tengah yang lagi memanas. Ancaman pemblokiran Selat Hormuz bikin semua orang tegang. Eskalasi militer yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat udah bikin produksi minyak dunia kacau balau.
Artikel Terkait
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Tjiwi Kimia Turun 7,2% di 2025 Meski Penjualan Stabil