Badan Geologi Larang Pendakian di Radius 2 Km Puncak Gunung Slamet

- Senin, 30 Maret 2026 | 00:30 WIB
Badan Geologi Larang Pendakian di Radius 2 Km Puncak Gunung Slamet

JAKARTA – Aktivitas Gunung Slamet menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Badan Geologi melaporkan, sejak pertengahan Maret lalu, tepatnya dari tanggal 16 hingga 28, gunung tersebut terus menunjukkan kegelisahan. Meski belum sampai pada titik erupsi, pihak berwenang sudah mengambil langkah antisipasi. Mereka melarang segala aktivitas, termasuk pendakian, dalam radius dua kilometer dari puncak.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (29/3/2026), membeberkan data yang cukup mencengangkan.

“Data kegempaan periode tanggal 16 - 28 Maret 2026, yaitu terekam 541 kali Gempa Hembusan, 421 kali Gempa Low Frequency, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam, 7 kali Gempa Tektonik Jauh, Tremor Menerus dengan amplitudo 1 mm, dominan 0.5 mm,” jelasnya.

Menurut Lana, gempa frekuensi rendah ini terekam secara fluktuatif. Namun, ada pola yang jelas: peningkatan mulai terlihat sejak 22 Maret. Dan yang patut diwaspadai, rekaman kegempaan itu menjadi semakin tegas dan menerus mulai tanggal 27 Maret.

“Gempa-gempa berfrekuensi rendah ini terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam, berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik,” ujarnya lagi.

Intinya, semua data pengamatan mengarah pada satu kesimpulan: tekanan di bawah tubuh Slamet sedang naik. Tekanan inilah yang memicu gempa-gempa dangkal dan, tentu saja, meningkatkan kemungkinan terjadinya letusan. Situasinya memang mencekam.

Namun begitu, status resminya belum berubah. Hingga laporan ini dibuat, tingkat aktivitas Gunung Slamet masih bertahan di Level II atau Waspada. Rekomendasinya tetap: jauhi zona bahaya.

Lana menegaskan kembali larangan itu.

“Menyikapi peningkatan aktivitas Gunung Slamet dan potensi erupsi, agar radius rekomendasi bahaya 2 km dari puncak Gunung Slamet tidak ada aktivitas wisatawan atau pendakian. Karena erupsi dapat terjadi sewaktu-waktu, utamanya untuk mencegah adanya korban apabila terjadi erupsi,” pungkasnya.

Gunung Slamet sendiri bukanlah gunung sembarangan. Dengan ketinggian sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut, gunung strato berbentuk kerucut ini menjulang megah. Secara administratif, ia berada di wilayah lima kabupaten di Jawa Tengah: Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga. Kini, ketenangan gunung itu sedang diuji.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar