Pasar minyak mentah akhirnya stabil di tengah gejolak yang terjadi sepanjang hari Selasa (30/12). Investor tampaknya mulai menimbang ulang harapan mereka. Di satu sisi, prospek kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina tampak semakin redup. Di sisi lain, situasi di Timur Tengah khususnya seputar Yaman justru memanas dan menambah ketegangan geopolitik. Dua faktor ini saling tarik-menarik, membuat harga terjebak dalam posisi yang hampir tak bergerak.
Minyak Brent untuk kontrak Februari, yang hari itu juga berakhir, cuma turun tipis 2 sen. Angkanya jadi USD 61,92 per barel, atau turun 0,03 persen saja. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS sedikit lebih tertekan, merosot 13 sen ke level USD 57,95 per barel.
Lalu bagaimana dengan komoditas lainnya? Ternyata, pergerakannya cukup beragam.
Batu bara, misalnya, justru mencatatkan penurunan. Pada penutupan perdagangan, harganya terpangkas 1,20 persen dan bertengger di USD 106,65 per ton.
Berbeda cerita dengan minyak kelapa sawit atau CPO. Komoditas yang satu ini sedikit menguat, naik 0,54 persen menjadi MYR 4.071 per ton. Kenaikannya memang tak signifikan, tapi setidaknya memberi sedikit warna hijau di antara komoditas energi yang lesu.
Yang menarik justru pergerakan di logam industri. Nikel, contohnya, benar-benar melesat. Harganya melonjak tajam 6,47 persen, mencapai USD 16.780 per ton. Kenaikan yang cukup fantastis untuk satu hari perdagangan.
Tak mau kalah, timah juga menunjukkan performa positif. Berdasarkan catatan London Metal Exchange (LME), harga logam ini menguat hampir 3 persen, tepatnya 2,97 persen, dan menetap di level USD 41.954 per ton. Jadi, sementara energi tampak stagnan, sektor logam justru menunjukkan geliat yang cukup kuat di hari Selasa itu.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Puasa 2026
S&P DJI Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia, Pantau Perkembangan Regulasi BEI
S&P Dow Jones Tetap Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia Meski Kompetitor Tunda
S&P Tetap Lanjutkan Rebalance Indeks Indonesia di Tengah Keraguan Pesaing