Menurut riset Stockbit, ada satu faktor kunci di balik lonjakan laba yang dramatis ini. Rupanya, pengakuan negative goodwill dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR) senilai Rp4,5 triliun punya peran besar.
Pendapatan non-operasional itu cukup untuk menutupi beberapa kerugian yang muncul di tahun yang sama. Mulai dari penghapusan piutang dan persediaan, hilangnya kendali atas entitas anak, sampai penjualan aset tetap. Totalnya mencapai Rp724 miliar.
Meski begitu, jangan salah. Secara operasional, kinerja inti DEWA juga membaik. Core profit-nya naik 59 persen, menjadi Rp910 miliar. Artinya, bisnis utamanya tetap solid.
Ke depannya, prospek perusahaan ini masih cerah. Salah satu pendorongnya adalah potensi tambahan volume kontrak sekitar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Belum lama ini, DEWA juga mengumumkan rencana strategis. Mereka akan mempercepat pengambilalihan pekerjaan secara in-house di proyek Bengalon KPC, mulai April 2026. Langkah ini diambil demi efisiensi dan peningkatan kinerja operasional ke depan.
Artikel Terkait
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Tjiwi Kimia Turun 7,2% di 2025 Meski Penjualan Stabil